

TREAT – Tak selalu yang terlihat menyeramkan ternyata berhantu.
Perkenalkan namaku Luna. Salah satu murid SMA yang cukup terkenal di kotaku. Aku seperti murid pada umumnya pergi ke sekolah setiap pagi, pulang sekolah ketika sore hari dan mengerjakan PR pada malamnya. Keseharianku yang begitu membosankan membuatku mencoba mencari pengalaman baru atau lebih seperti menantang diri dengan mengunjungi tempat yang menurut orang “berhantu”. Tak ada salahnya untuk mencoba bukan?
Aku tinggal di sebuah perumahan yang tak jauh dari pusat kota. Suasananya yang sejuk dipenuhi pohon terasa menyegarkan ketika angin menerpa dedaunan di sana. Di sepanjang jalan setapak perumahan, aku menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Dengan earphone di kedua telingaku menambah kenyamanan setiap langkah kakiku.
Sekilas bayangan hitam tanpa sengaja melintas dengan cepat di ujung mata kananku. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, namun tak ada yang nampak mencurigakan kecuali sebuah rumah kosong yang berantakan dan dipenuhi rumput tinggi di sekelilingnya. Suasanan yang mencekam dan sunyi serta cerita warga yang aku dengar selama ini menambah kengerian saat aku melihatnya.
Rumah itu sudah tak berpenghuni sejak aku pindah, sekitar 5 tahun yang lalu ke kota ini. Aku selalu penasaran apa sebanarnya yang terdapat dalam rumah tersebut, tapi karena cerita warga yang sangat meyakinkan membuat aku tertantang untuk menelusuri rumah itu lebih jauh.
Aku terbangun sekitar pukul tiga pagi. Aku mengintip kearah jendela dan melihat ke rumah kosong yang selama ini menghantui warga dengan cerita yang tak masuk akal. Rasa penasaran mempengaruhi diriku malam ini. berbekal sebuah senter aku mengendap-endap di antara dinding-dinding rumah.
Rumah itu tampak lebih berhantu jika dilihat di malam hari. Aku memanjat sebuah pagar yang membatasi rumah itu dengan lingkungan luar. Aku mengarahkan senterku ke rumah tersebut, tak ada yang aneh dengan rumah itu, hanya seperti rumah tak teurus lain dengan rumput panjang di halaman, jejak rembesan air yang tercetak di dinding, cat dinding yang mengelupas, dan banyak sarang laba laba menggantung di loteng rumah.
Aku melangkahkan kakiku untuk melihat lebih jauh keadaan rumah ini. Saat ini aku seperti seorang pencuri yang mengendap-endap dan mencari barang curian. Kakiku melangkah ke sebuah ruangan yang pintunya tampak terbuka. Perlahan aku masuk ke ruangan tersebut dengan bermodalkan lampu senter yang sudah mulai redup.
Seketika sebuah bayangan berlari begitu kencang keluar ruangan, aku mengejarnya hingga kelelahan. Hingga aku berhenti di sebuah sudut ruangan. Aku terengah-engah, kembali aku arahkan senter ke arah benda tersebut. Ternyata itu hanyalah seekor tupai. Tupai inilah yg selama ini menghantui warga dengan suara larinya yang menggema di seluruh rumah kosong ini. Sungguh aneh dan sedikit menyebalkan, sesuatu yang selama ini dianggap menghantui ternyata hanyalah seekor tupai. Ternyata tupai lebih menyeramkan daripada hantu.
Yulia Maharani