

New York – FIFA memutuskan untuk mencabut sebagian larangan membawa botol air minum ke stadion bagi penonton Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil setelah otoritas sepak bola dunia tersebut menerima gelombang tekanan dan kritik dari suporter, pejabat kota tuan rumah, hingga pakar kesehatan publik.
Sebelumnya, FIFA menerapkan aturan ketat yang melarang penggemar membawa botol minum ke dalam stadion dengan alasan keamanan. Kebijakan tersebut menuai protes keras karena dinilai menyulitkan akses air bersih bagi penonton yang harus berada di bawah cuaca panas ekstrem selama berjam-jam.
Berdasarkan aturan baru, FIFA kini mengizinkan penonton membawa satu botol air minum plastik lunak dengan kapasitas maksimal 590 mililiter dalam kondisi tersegel dari pabrik. Kendati demikian, FIFA tetap melarang penggunaan botol berbahan keras yang dapat digunakan kembali demi pertimbangan keamanan.
Perubahan kebijakan ini disambut positif oleh sejumlah pihak, termasuk Wali Kota New York, Zohran Mamdani. Ia menegaskan bahwa akses air minum merupakan kebutuhan krusial bagi penonton, terutama di tengah potensi cuaca ekstrem selama turnamen berlangsung.
Polemik aturan botol minum ini menyoroti tantangan besar bagi penyelenggara Piala Dunia 2026. Turnamen yang melibatkan 48 negara dengan total 104 pertandingan ini berisiko tinggi terhadap keselamatan penonton akibat cuaca panas.
Laporan dari kelompok riset World Weather Attribution memperingatkan bahwa setidaknya 26 pertandingan berpotensi berlangsung dalam kondisi suhu yang membahayakan kesehatan. Indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menunjukkan bahwa kombinasi suhu tinggi dan kelembapan ekstrem dapat memicu risiko dehidrasi hingga serangan panas bagi penonton.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, FIFA menyatakan telah menyusun berbagai langkah mitigasi. Penyelenggara berkomitmen menyediakan stasiun hidrasi, kipas pendingin, area penyemprotan air, serta tenda pendingin di sekitar area stadion.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan di lapangan hijau, tetapi juga ujian bagi penyelenggara dalam menjamin keselamatan jutaan suporter dari dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem.