

Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6). Penguatan ini didorong oleh membaiknya sentimen global serta pelemahan indeks mata uang dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.058 per dolar AS, menguat 0,72% dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 18.188 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi rupiah berada di level Rp 18.141 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di angka Rp 18.171 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai apresiasi rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang mendukung aset berisiko. Beberapa faktor tersebut meliputi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, penurunan harga minyak mentah dunia, serta koreksi pada indeks dolar AS.
“Rupiah ditutup menguat cukup besar. Perkembangan eksternal sangat positif dengan sentimen risk-on, meredanya ketegangan di Timur Tengah, menurunnya harga minyak mentah dunia, dan koreksi pada dolar AS,” ujar Lukman, Selasa (9/6).
Menurutnya, membaiknya sentimen pasar global mendorong investor kembali melirik aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa dinamika eksternal masih berpotensi berubah dan akan tetap menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan terbit pada Rabu (10/6). Data tersebut akan menjadi indikator penting dalam arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Lukman memproyeksikan rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, selama tidak terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah dan sentimen pasar saham global tetap positif. Untuk perdagangan Rabu (10/6), rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS.