

Washington D.C. – Dana Moneter Internasional (IMF) menilai perekonomian global tetap tangguh (resilien) di tengah ketidakpastian yang kian kompleks akibat konflik di Timur Tengah. Pandangan ini mengemuka dalam IMF-World Bank Spring Meetings yang diselenggarakan di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 16-17 April 2026.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, menyatakan bahwa negara-negara anggota IMF mendorong langkah bersama untuk menghadapi ketidakpastian global. Upaya ini juga bertujuan memastikan transformasi ekonomi dapat bermanfaat bagi pertumbuhan dunia. Perry menyampaikan keterangan resmi ini pada Sabtu, 18 April 2026.
Selain itu, IMF menyoroti perubahan besar di bidang teknologi, demografi, dan lingkungan. Perubahan ini menciptakan tantangan sekaligus peluang baru bagi ekonomi global. Salah satunya adalah perkembangan pesat artificial intelligence atau kecerdasan buatan (AI).
Artificial intelligence, di satu sisi, berpotensi meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan. Namun, di sisi lain, perkembangan teknologi ini juga dapat menimbulkan disrupsi di berbagai sektor. Menanggapi dinamika global ini, Perry menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
“Komitmen ini dilakukan melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tetap mendukung pertumbuhan,” ucap Perry.
Sementara itu, Chairman International Monetary and Financial Committee (IMFC) Mohammed Aljadaan menyampaikan bahwa dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah akan sangat bergantung pada durasi, intensitas, dan perluasan geografisnya. Ia menekankan bahwa negara-negara termiskin dan paling rentan menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
“Jika berkepanjangan, hal ini dapat membuat harga bahan bakar dan pupuk tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama, mengganggu pasokan input utama, dan memperbesar risiko terhadap keamanan energi dan pangan, pertumbuhan global, inflasi, dan neraca sektor eksternal,” kata Aljadaan dalam keterangan resmi pada Jumat, 17 April 2026. Menteri Keuangan Arab Saudi itu menambahkan, bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga sesuai dengan mandat masing-masing.