Rupiah Sentuh Level Terendah, Analis Proyeksikan Tren ke Depan

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat akibat meningkatnya ketidakpastian global dan penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026), rupiah melemah 0,39 persen ke level Rp 17.597 per dolar AS, yang tercatat sebagai posisi terlemah sepanjang sejarah.

Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan mata uang Garuda. Dari sisi eksternal, memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa insiden tenggelamnya kapal kargo India di perairan Oman kian memicu kekhawatiran investor. Situasi tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan dana mereka ke aset aman atau safe haven, yang membuat indeks dolar AS terus menguat.

Pasar saat ini juga tengah mencermati arah kebijakan moneter The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam jangka waktu lama, menyusul tingginya inflasi akibat kenaikan harga energi, membuat arus modal global lebih tertarik pada aset berbasis dolar AS.

Sementara itu, dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperburuk oleh tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik. Intervensi Bank Indonesia (BI) dinilai masih terbatas pada upaya stabilisasi pasar, sementara beban fiskal pemerintah turut membayangi sentimen pelaku pasar.

Risiko fiskal dinilai dapat meningkat seiring dengan potensi membengkaknya subsidi energi akibat kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini menempatkan Bank Indonesia pada posisi sulit karena harus memilih antara menjaga stabilitas nilai tukar atau mempertahankan suku bunga demi mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ibrahim memprediksi tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Bahkan, rupiah berpotensi menembus level Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat jika ketegangan eksternal tidak segera mereda.

Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa jika kondisi global tidak menunjukkan perubahan signifikan, nilai tukar rupiah berisiko bergerak lebih dalam hingga mendekati level Rp 22.000 per dolar AS pada Agustus 2026. Fokus pasar kini tertuju pada langkah strategis Bank Indonesia dalam rapat dewan gubernur berikutnya untuk meredam volatilitas mata uang.

Rekomendasi