Daftar Saham yang Berpotensi Terdampak Rebalancing MSCI

Jakarta – Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai bahwa tekanan jual akibat penyesuaian atau rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak tersebar merata, melainkan terkonsentrasi pada sejumlah saham tertentu.

Dalam rebalancing kali ini, enam saham Indonesia resmi dihapus dari MSCI Global Standard Indexes, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Meskipun demikian, AMRT tetap dimasukkan ke dalam MSCI Small Cap Indexes. Selain itu, terdapat 13 saham lainnya yang dikeluarkan dari MSCI Small Cap Indexes, termasuk ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia, mengungkapkan bahwa saham DSSA dan BREN menjadi pusat tekanan terbesar. DSSA diperkirakan menghadapi passive outflow sekitar Rp 9 triliun, sementara BREN berpotensi mengalami outflow sebesar Rp 6 triliun.

“Artinya, lebih dari separuh tekanan MSCI sebenarnya hanya bertumpu pada dua nama tersebut,” ujar Liza dalam laporan resminya, Rabu (13/5/2026).

Liza menambahkan, saham lain seperti AMMN, CUAN, dan TPIA memang terdampak, namun skalanya lebih terbatas karena kapitalisasi pasarnya telah terkoreksi dalam sejak awal tahun. Estimasi arus keluar dana asing kini dipandang lebih realistis di angka Rp 31,5 triliun hingga Rp 34,7 triliun, jauh di bawah kekhawatiran awal pasar yang sempat mencapai Rp 50 triliun.

Menurutnya, sebagian tekanan jual kemungkinan besar sudah tercermin dalam net foreign sell sebesar Rp 49 triliun di Bursa Efek Indonesia sejak awal tahun. Investor global cenderung telah melakukan penyesuaian posisi jauh sebelum tanggal efektif implementasi pada 29 Mei 2026.

Liza menegaskan bahwa pasar sebaiknya tidak hanya terfokus pada narasi keluarnya sejumlah saham. Ia menilai terdapat poin positif yang luput dari perhatian, seperti status Indonesia sebagai emerging market yang tetap aman serta potensi rotasi likuiditas asing ke saham blue-chip dan perbankan jumbo seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM.

Meski begitu, ia mengakui kondisi pasar domestik masih cukup rapuh di tengah tekanan kurs rupiah yang menembus Rp 17.500 per dolar AS, konflik geopolitik, serta tingginya yield US Treasury.

Tercatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 1,19% ke level 6.777,54 pada Rabu pagi. Terkait kondisi tersebut, Kiwoom Sekuritas menyarankan investor untuk mengambil langkah hold serta wait and see sembari menanti volatilitas pasar mereda.

Area support IHSG saat ini berpotensi melebar ke kisaran 6.762-6.745, sementara area resistance terdekat berada pada level 6.980 hingga 7.015.

Rekomendasi