BI Optimistis Rupiah Kembali ke Level Rp16.500 Tahun Ini

Jakarta – Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat ke level Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun ini. Keyakinan tersebut tetap terjaga meskipun mata uang nasional saat ini tengah berada dalam tekanan akibat faktor global dan tingginya permintaan valuta asing (valas).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan seluruh instrumen kebijakan secara optimal untuk menjaga stabilitas rupiah. Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini bersifat musiman, terutama akibat melonjaknya permintaan dolar AS pada periode April hingga Juni.

“Pascamelewati musim permintaan tinggi terhadap dolar yaitu April, Mei, dan Juni, insyaallah rupiah sangat berpotensi untuk menguat,” ujar Ramdan seusai rapat dengan Komisi XI DPR RI, Senin (18/5).

BI memproyeksikan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS. Untuk mencapai target tersebut, BI terus mengimplementasikan tujuh langkah strategis sambil mencermati ketidakpastian kondisi global, seperti kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Selat Hormuz serta tingginya imbal hasil US Treasury di kisaran 4,6-4,7 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini masih dalam kondisi undervalue atau berada di bawah nilai fundamental ekonomi nasional. Menurutnya, pelemahan yang terjadi lebih didominasi oleh faktor musiman, seperti kebutuhan devisa untuk ibadah haji dan umrah, pembayaran dividen perusahaan, serta pelunasan utang luar negeri korporasi.

Perry optimistis tekanan tersebut akan mereda setelah Juni, sehingga rupiah berpotensi kembali menguat pada Juli dan Agustus. Ia menambahkan bahwa dinamika nilai tukar saat ini merupakan fenomena global yang dialami hampir seluruh negara akibat ketegangan geopolitik, termasuk perang di Timur Tengah.

“Kami meyakini tahun ini rerata nilai tukar adalah Rp 16.500. Kondisi ini bukan hanya dialami Indonesia, hampir seluruh negara di dunia menghadapi tekanan serupa terhadap dolar AS,” pungkas Perry.

Rekomendasi