

Jakarta – Biaya produksi iPhone 18 Pro Max diperkirakan meningkat dibanding model saat ini, seiring kenaikan tajam harga komponen utama seperti NAND, DRAM, serta SoC 2nm dan teknologi pengemasannya.
Lembaga riset Counterpoint Research merilis perkiraan rincian biaya komponen iPhone 18 Pro Max, dengan membandingkannya terhadap iPhone 17 Pro Max 1TB.
Kelangkaan komponen yang memengaruhi pasar sejak akhir tahun lalu membuat biaya memory flash NAND diperkirakan naik signifikan, disusul lonjakan biaya DRAM.
Dilansir 9to5Mac, Minggu (12/7/2026), Counterpoint juga menyoroti SoC 2nm dan teknologi pengemasannya sebagai faktor utama kenaikan biaya.
Perkiraan Counterpoint menunjukkan biaya NAND dan DRAM iPhone 18 Pro Max akan mendekati keseluruhan biaya komponen model terkini, termasuk prosesor, kamera, layar, dan komponen lain.
Di sisi lain, biaya layar dan komponen lain diperkirakan menurun, meski biaya kamera akan sedikit naik karena teknologi baru. Hal itu merujuk pada kamera utama dengan variable-aperture yang diperkirakan hadir.
Laporan itu juga menyebut Apple diperkirakan akan menerapkan kenaikan harga retail berbeda pada tiap varian kapasitas penyimpanan untuk menghindari hilangnya laba kotor pada model berkapasitas besar.
Meski harga naik hingga USD 200 atau sekitar Rp 3,6 juta, perusahaan tetap diperkirakan mencatat margin lebih tipis pada model tahun ini.
Di sisi lain, dokumen rahasia terkait pengembangan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max dilaporkan beredar di dark web setelah pemasok Apple menjadi korban ransomware.
Kelompok ransomware World Leaks disebut membobol dan mencuri data rahasia serta sensitif dari Tata Electronics, pemasok Apple asal India.
Data yang dicuri itu berisi foto iPhone 18 Pro yang belum dirilis serta setidaknya enam dokumen yang memetakan ratusan komponen perangkat tersebut ke pemasok spesifik.
Informasi dalam dokumen itu dikonfirmasi dan ditinjau Reuters serta satu sumber yang mengetahui persoalan secara langsung, sebagaimana dikutip dari MacRumors, Rabu (1/7/2026).
Data yang bocor mencakup foto uji jatuh iPhone 18 Pro yang diambil di salah satu pabrik Tata pada awal 2026. Foto itu menampilkan ponsel berbentuk slab abu-abu dengan tiga kamera belakang dan logo Apple.
Sejumlah file juga memuat watermark “confidential” milik Apple dengan kode internal yang konsisten dengan generasi iPhone 18 Pro.
Bocoran ini bukan sekadar soal privasi. Enam file lainnya memperlihatkan secara spesifik komponen iPhone 18 Pro, dari chip hingga baterai dan kamera, beserta masing-masing pemasoknya.
Padahal, Apple secara konsisten tidak mengungkap detail tersebut dalam basis data pemasok publiknya.
Beredarnya dokumen itu juga menunjukkan di mana Apple mengandalkan beberapa pemasok sekaligus untuk satu komponen, dan di mana hanya bergantung pada satu atau dua pihak.
Apple dikenal sangat ketat menjaga informasi pemasok perangkatnya, mulai dari iPhone hingga Mac.
Karena sudah muncul di dark web, informasi itu rentan dipakai rival, pemalsu produk, hingga vendor Apple sendiri untuk memperoleh gambaran lebih jelas tentang siapa membuat apa.
Total file yang bocor dari Tata Electronics disebut melebihi 200.000. Selain dokumen iPhone, kebocoran ini juga mencakup materi terkait Tesla, serta dokumen dari TSMC dan Qualcomm, dua perusahaan yang dipercaya memproduksi komponen untuk iPhone.
Apple dilaporkan tengah menginvestigasi insiden itu bersama Tata. Sebagai respons, Tata membatasi akses internal ke sistem sensitif dan menyewa konsultan global untuk audit forensik.
Juru bicara Apple dan Tata tidak merespons pertanyaan Reuters. World Leaks, yang sebelumnya juga mengklaim bertanggung jawab atas peretasan Nike, belum mengungkap lebih lanjut soal bocoran data Tata tersebut.