

Padang – Abimana Aryasatya telah lama dikenal sebagai salah satu aktor papan atas Indonesia. Wajahnya kerap membintangi berbagai film box office, mulai dari aksi hingga drama. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa nama yang melekat padanya saat ini bukanlah nama yang ia gunakan sejak lahir.
Sebelum dikenal sebagai Abimana Aryasatya, aktor kelahiran 24 Oktober 1982 itu bernama Robertino. Nama tersebut kemudian ia tinggalkan setelah melalui perjalanan hidup penuh pergumulan, termasuk saat memutuskan menjadi mualaf dan menemukan identitas baru yang dirasanya lebih sesuai dengan keyakinan serta perjalanan hidupnya.
Nama Robertino diberikan oleh sang ibu dan diambil dari nama ayah kandungnya yang berasal dari Spanyol, Roberto. Sang ibu berharap nama itu memiliki arti “anak Roberto” dalam bahasa Spanyol.
Namun, belakangan diketahui penyebutan tersebut kurang tepat. Bentuk yang benar seharusnya “Robertito”. Karena ketidaktahuan soal bahasa Spanyol, nama Robertino tetap digunakan sejak ia lahir.
Akibat nama itu, Abimana mengaku sempat sering disangka memiliki darah Italia atau berasal dari keluarga non-Muslim. Padahal, ia memeluk Islam sejak berusia 13 tahun dan menjalani kehidupan sebagai seorang mualaf.
Perubahan keyakinan itu menjadi salah satu alasan mengapa ia ingin memiliki nama yang menurutnya lebih mencerminkan identitas serta nilai-nilai yang diyakininya.
Pergantian nama bukan semata-mata karena alasan agama. Ada kisah pribadi yang cukup mendalam di balik keputusan tersebut.
Abimana tumbuh tanpa kehadiran ayah kandung setelah kedua orang tuanya berpisah. Nama Robertino yang berasal dari sang ayah justru menjadi beban emosional yang terus ia rasakan selama bertahun-tahun.
Ia mengaku sejak kecil tidak pernah merasa cocok menggunakan nama tersebut.
“Sejak kecil saya merasa bahwa nama Robertino itu bukan untuk saya. Latar belakangnya karena saya bukan dari keluarga yang utuh. Robertino itu nama bapak saya, tapi saya nggak pernah ketemu bapak saya, dan saya nggak nyaman memakai nama itu,” ujar Abimana dalam sebuah wawancara.
Selain faktor keluarga, ia juga merasa nama tersebut kerap membuat orang salah menilai identitas agamanya. Karena itu, ia ingin menggunakan nama yang memiliki makna baik sekaligus menjadi doa dalam hidupnya.