

Jakarta – Indonesia saat ini tengah melangkah mantap untuk mengubah peta industri nikel global melalui program hilirisasi yang masif.
Pemerintah menargetkan transformasi total dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pusat ekosistem kendaraan listrik dunia.
Dengan cadangan bijih nikel mencapai 5,3 hingga 5,9 miliar ton per 2025, ambisi tersebut dinilai memiliki fondasi yang sangat kuat.
Sektor ini kini mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga daur ulang baterai.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi dua pilar utama yang memimpin pergerakan besar ini.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai prospek jangka panjang industri nikel tetap cerah berkat dukungan kebijakan pemerintah.
Sentimen positif muncul dari peningkatan nilai tambah ekspor dan masifnya investasi di sektor smelter serta bahan baku baterai.
“Sentimen positif nikel seperti potensi peningkatan nilai tambah ekspor produk olahan dibandingkan bijih mentah serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan rantai pasok baterai nasional,” ujar Nafan kepada media, Kamis (9/7).
Meski demikian, tantangan global seperti fluktuasi harga, kelebihan pasokan, dan perubahan teknologi baterai tetap membayangi.
Perusahaan dituntut memiliki arus kas yang kuat untuk membiayai proyek hilirisasi yang membutuhkan modal jumbo.
ANTM sendiri terus tancap gas dengan meningkatkan cadangan nikel hingga 534,55 juta wmt pada 2025.
Perusahaan berkolaborasi dengan raksasa baterai dunia, CATL, untuk membangun ekosistem baterai terintegrasi dengan nilai investasi hampir US$ 6 miliar.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menegaskan bahwa perusahaan tetap optimis menjaga momentum pertumbuhan.
“Dengan fondasi operasional yang solid dan kondisi keuangan yang sehat, perusahaan optimistis menjaga momentum pertumbuhan serta menghadapi dinamika global melalui strategi yang terukur dan berkelanjutan,” kata Untung.
Di sisi lain, INCO mengambil langkah strategis melalui proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Sorowako, Morowali, dan Pomalaa.
Vale fokus pada produksi nikel dengan standar emisi rendah menggunakan energi terbarukan dari pembangkit listrik tenaga air.
Komitmen ini terbukti mampu menarik minat investor global yang tercermin dari keberhasilan perolehan pinjaman sindikasi senilai US$ 750 juta.
Presiden Direktur sekaligus CEO Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa keberlanjutan adalah kunci daya saing perusahaan di pasar internasional.
“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah, sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global,” ujar Bernardus.
Strategi kedua perusahaan ini menegaskan bahwa Indonesia serius menggarap potensi nikel dari hulu hingga hilir.
Keberhasilan hilirisasi ini nantinya diharapkan mampu memperkuat ketahanan industri kendaraan listrik nasional secara mandiri.
Selain itu, sistem ekonomi sirkular melalui teknologi daur ulang baterai akan menjadi pelengkap strategis bagi rantai pasok nasional.
Dengan segala dinamika yang ada, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi bersih dunia.