

New York – Ferran Torres resmi menahbiskan dirinya sebagai pahlawan nasional Spanyol setelah menjadi penentu kemenangan La Furia Roja di final Piala Dunia 2026.
Penyerang berusia 26 tahun tersebut mencetak gol tunggal kemenangan 1-0 atas Argentina dalam partai puncak yang berlangsung di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7/2026).
Gol krusial yang lahir pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu tersebut sekaligus mengakhiri kebuntuan panjang dalam laga yang berlangsung sengit.
Keberhasilan ini membawa Spanyol meraih trofi Piala Dunia kedua mereka sepanjang sejarah sepak bola negara tersebut.
Pencapaian ini terasa sangat emosional bagi Torres karena ia sempat menjadi sasaran kritik tajam publik sebelum turnamen dimulai.
Banyak kalangan meragukan kapasitasnya karena dianggap kurang konsisten dan tidak cukup tajam di depan gawang lawan.
Keputusan pelatih Luis de la Fuente yang tetap memasukkan namanya ke dalam skuad sempat memicu perdebatan di kalangan media dan pendukung Spanyol.
Namun, Torres membuktikan bahwa kepercayaan sang pelatih tidak salah tempat.
Dalam turnamen ini, Torres sebenarnya lebih sering berperan sebagai pemain pengganti atau supersub.
Posisi penyerang utama selama kompetisi lebih banyak dipercayakan kepada Mikel Oyarzabal yang tampil impresif dengan torehan lima gol.
Sepanjang turnamen, Torres tercatat hanya satu kali tampil sebagai starter, yakni saat Spanyol ditahan imbang tanpa gol oleh Cape Verde di babak fase grup.
Meski minim kesempatan sebagai pemain inti, Torres mampu menjaga performanya berkat modal kepercayaan diri yang ia bangun bersama Barcelona sepanjang musim lalu.
Bersama klubnya, ia mampu mencatatkan 21 gol di semua kompetisi dan menjadi pencetak gol terbanyak kedua di bawah Lamine Yamal.
Masuk ke lapangan pada menit ke-61 menggantikan rekan setimnya, Torres langsung memberikan dampak instan terhadap alur serangan Spanyol.
Ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, ia hadir sebagai pembeda yang memastikan kemenangan timnya.
Seusai pertandingan, Torres mengungkapkan rasa leganya setelah mampu menjawab keraguan publik dengan prestasi nyata.
“Itu adalah gol yang dicetak oleh 47 juta orang. Itu bahkan bukan milik saya atau dari 26 pemain. Itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi gol kemenangan,” ujar Torres kepada Reuters.
Ia juga mengakui bahwa menghadapi tim sekelas Argentina yang dipimpin oleh Lionel Messi memberikan tekanan mental yang luar biasa besar.
Namun, ia menegaskan bahwa Spanyol memang layak keluar sebagai pemenang karena dominasi permainan yang mereka tunjukkan di lapangan.
“Meskipun semua final itu sulit, ketika Anda berhadapan dengan Lionel Messi, Anda memang sedikit gugup. Kami bermain lebih baik,” jelasnya.
Torres menambahkan bahwa kekuatan mentalnya selama turnamen didorong oleh rasa syukur dan keyakinan akan keadilan Tuhan bagi mereka yang bekerja keras.
“Saya telah banyak dikritik sepanjang Piala Dunia. Syukurlah Tuhan selalu memberi saya kekuatan untuk terus maju. Tuhan memberikan hal-hal kepada mereka yang paling pantas mendapatkannya,” tegas pemain tersebut.
Keberhasilan ini secara drastis mengubah citra Torres di mata publik sepak bola dunia.
Dari sosok yang sempat diragukan kehadirannya, ia kini dikenang sebagai pahlawan yang berhasil membawa negaranya berdiri di puncak kejayaan dunia.