Investasi Pusat Data AI Mengalir Kencang, Ekonomi Lokal Melambat

investasi pusat data ai tembus miliaran dolar, dampak ke ekonomi masih minim

Jakarta – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membentuk cara bisnis beroperasi dan mendorong lonjakan pembangunan pusat data di seluruh Amerika Serikat.

Fasilitas-fasilitas itu berukuran ratusan acre dan menjadi salah satu gelombang investasi modal terbesar dalam sejarah Amerika.

Peneliti Georgia Tech, Daniel Yue, bersama peneliti pascadoktoral Yiyang Zeng, mengkaji dampak pusat data terhadap lapangan pekerjaan lokal, gaji, aktivitas bisnis, dan harga listrik.

Dikutip dari Futurity, Senin (3/8/2026), temuan mereka menunjukkan geografi memegang peran penting dalam menentukan apakah sebuah komunitas bisa merasakan manfaat ekonomi yang besar.

Zeng mengatakan, aliran modal dalam jumlah besar ke komunitas tertentu kerap berkaitan dengan pembangunan baru, tetapi bukti kuat soal manfaat fasilitas-fasilitas tersebut masih minim.

Ia menambahkan, penolakan warga lokal muncul cepat di berbagai daerah. Penelitian ini disebut mengisi celah itu dengan menghadirkan bukti baru berbasis data rinci dari tingkat fasilitas yang dikaitkan dengan dampak ekonomi di tingkat kabupaten.

Terdapat lebih dari 2.700 pusat data di seluruh Amerika Serikat. Satu fasilitas bisa menelan biaya lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun, sekaligus menyedot listrik setara kota kecil.

Dalam tiga tahun pertama setelah beroperasi, tingkat lapangan kerja naik sekitar 0,9%, gaji karyawan meningkat 1,1%, jumlah unit usaha bertambah 1,0%, dan pendapatan rumah tangga naik 0,7%.

Seiring waktu, dampak keseluruhan semakin besar, masing-masing mencapai 3,5%, 5,0%, 4,7%, dan 1,9%. Jumlah izin pembangunan juga ikut melonjak.

Meski memberi keuntungan ekonomi yang nyata, Yue dan Zeng menilai manfaat tersebut tergolong biasa saja jika dibandingkan besarnya investasi.

Temuan paling jelas menunjukkan wilayah metropolitan menikmati manfaat ekonomi dari pusat data, sementara wilayah pedesaan hampir tidak merasakannya. Lapangan kerja dan pertumbuhan bisnis baru lebih meningkat di wilayah metropolitan ketimbang non-metropolitan karena adanya aglomerasi atau pemusatan aktivitas ekonomi.

Wilayah metropolitan berada di posisi menguntungkan karena memiliki infrastruktur lengkap, mulai dari kontraktor, pemasok peralatan, tenaga kerja, hingga toko-toko. Saat pusat data dibangun, uang langsung berputar di ekosistem bisnis lokal.

Sebaliknya, di wilayah pedesaan efek tersebut jauh lebih sulit dicapai. Fasilitas pusat data cenderung mempekerjakan sedikit karyawan tetap dan banyak layanan khusus didatangkan dari luar daerah.

Meski begitu, tingkat pengangguran di wilayah non-metropolitan memang turun. Namun, pertumbuhan lapangan kerja dan upah yang dijanjikan kerap tidak terwujud.

Di sisi lain, pusat data mengonsumsi listrik dalam jumlah besar. Satu fasilitas bahkan bisa memakai daya setara 80.000 rumah, dan harga listrik tercatat naik 5% setelah pusat data dibangun.

Zeng mengatakan, ketika manfaat bagi masyarakat kecil, dampak negatif seperti kenaikan harga listrik dan beban tambahan infrastruktur lokal akan langsung dirasakan warga setempat.

Peneliti menyarankan masyarakat bertanya soal pihak yang membayar infrastruktur baru serta pembagiannya secara spesifik. Perusahaan listrik lokal menerapkan pembagian biaya yang berbeda antara pemilik rumah, pelaku usaha, dan pengguna industri besar, termasuk pusat data.

Karena sistem pembagian biaya ini berbeda di tiap negara bagian, setiap proyek pembangunan pusat data memiliki karakteristik yang unik.

Para peneliti berharap hasil studi ini bisa menjadi bahan pertimbangan masyarakat agar lebih kritis dan mengambil keputusan berdasarkan data serta bukti nyata.

Zeng juga mengingatkan agar masyarakat tidak terpaku pada paket insentif, melainkan fokus pada detail struktur keringanan pajak, tarif listrik, serta pihak yang menanggung biaya peningkatan infrastruktur.

Memahami di mana pusat data menciptakan nilai bersama dinilai menjadi hal krusial bagi para pemimpin masyarakat maupun pembuat kebijakan.

Rekomendasi