

Jakarta – Menteri Koperasi Ferry Juliantono menargetkan pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih dapat selesai maksimal tiga bulan per titik. Target ini disampaikan Ferry dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Selasa, 18 November 2025. Pembangunan proyek ini melibatkan PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Kementerian Koperasi juga menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengawasi proses pembangunan gerai koperasi yang menelan biaya Rp 1,6 miliar per unit. Peletakan batu pertama atau groundbreaking pertama kali dilakukan di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, pada 17 Oktober 2025.
Hingga Selasa, 18 November 2025, Kementerian Koperasi mengklaim telah tersedia 30.500 lokasi siap dibangun Koperasi Merah Putih. Dari jumlah tersebut, Ferry berharap Agrinas Pangan dapat memulai pembangunan 25 ribu gerai.
Direktur Utama Agrinas Pangan, Joao Angelo De Sousa, menargetkan dapat memulai pembangunan 2.930 gerai per hari. Namun, hingga kini Agrinas baru mampu memulai sekitar 1.200 proses pembangunan gerai per hari. Joao melaporkan, Agrinas telah membangun sebanyak 13.772 gerai koperasi sejak 3 November 2025.
Menurut Joao, biaya pembangunan sebesar Rp 1,6 miliar per gerai adalah harga yang sangat rasional. Angka tersebut berlaku untuk seluruh gerai koperasi di Indonesia, dengan asumsi biaya Rp 2,9 juta per meter persegi.
Joao menjelaskan, jika pembangunan menggunakan indeks konstruksi yang bervariasi per daerah, anggaran yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar Rp 600 triliun. Sebagai contoh, biaya pembangunan per meter di Papua mencapai Rp 24 ribu, sementara di Nusa Tenggara Timur (NTT) senilai Rp 12 ribu per meter.
Agrinas telah menetapkan standar bangunan Koperasi Merah Putih dengan ukuran total 20 x 30 meter. Bangunan ini akan dilengkapi gerai toko berukuran 6 x 17 meter, klinik desa 3,5 x 20 meter, dan gudang 4 x 6 meter.
Proses pembangunan gerai juga melibatkan tenaga serta pemasok material lokal. Agrinas Pangan memastikan tidak menggunakan toko pemasok atau pedagang besar.
Selain itu, Agrinas Pangan dan TNI berperan dalam menyiapkan distribusi logistik. Di sejumlah wilayah, seperti Papua atau daerah pesisir, bantuan dari TNI, termasuk penggunaan helikopter, sangat dibutuhkan untuk mendistribusikan logistik ke lokasi pembangunan.