

Batusangkar – Bank Indonesia (BI) memperkirakan adanya peluang signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) pada kuartal IV-2025. Momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di penghujung tahun menjadi harapan utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Sumbar sebesar 4% pada tahun 2025.
Kepala BI Sumbar, M. Abdul Majid Ikram, menyatakan Ranah Minang dengan keindahan alamnya akan menjadi daya tarik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk liburan Nataru. “Sektor pariwisata, UMKM, dan transportasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar pada penutupan tahun 2025 nanti,” kata Majid pada Jumat (21/11/2025).
Majid juga menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada kuartal III-2025 tercatat 3,36% secara tahunan (yoy) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh lapangan usaha jasa lainnya yang tumbuh 10,10% dan industri pengolahan sebesar 9,06%. Untuk mencapai target 4% pada 2025, diharapkan pertumbuhan ekonomi secara kuartalan (qtq) minimal 1% di Q4.
“Jadi target ini kami tidak tinggi-tinggi dan realitas dengan kondisi Sumbar saat ini. Saya berharap dengan adanya geliat pertanian, perkebunan, dan di dorong pariwisata nantinya, secara angka bisa lebih dari target,” harap Majid.
Terpisah, Kepala BPS Sumbar Sugeng Arianto menambahkan bahwa lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan juga memiliki peran dominan pada pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025, yakni tumbuh sebesar 2,83%.
Sugeng menjelaskan, pertumbuhan tertinggi dialami oleh komponen impor luar negeri sebesar 52,18%, meskipun komponen ini adalah faktor pengurang PDRB. Sementara itu, komponen ekspor luar negeri tumbuh 38,53%, konsumsi lembaga non-profit tumbuh 6,08%, dan konsumsi rumah tangga tumbuh 1,64%.
Sebaliknya, konsumsi pemerintah terkontraksi 0,61%, dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) terkontraksi 1,16%. Menurutnya, struktur PDRB Sumbar didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 21,79%.
Diikuti oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran (17,10%), transportasi dan pergudangan (10,62%), konstruksi (9,65%), serta industri pengolahan (9,04%). “Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Sumbar mencapai 68,20%,” sebutnya.
Secara kuartalan (qtq), pertumbuhan ekonomi Sumbar pada triwulan III-2025 mengalami kontraksi sebesar 0,10% dibandingkan triwulan II-2025. Kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 21,04%. Di tingkat regional Sumatra, pertumbuhan ekonomi Sumbar (3,36%) berada di posisi kesembilan.
Menyikapi kondisi ini, Gubernur Sumbar Mahyeldi menyoroti pentingnya penguatan strategi ekspor dan relasi antar wilayah agar Sumbar memperoleh nilai tambah ekonomi yang lebih besar. Ia juga menilai perlunya relokasi industri ke daerah-daerah potensial, seperti Kabupaten Lima Puluh Kota, guna mendekatkan produsen dengan sumber bahan baku.
“Kalau bisa, industri ini jangan semuanya terpusat di Padang. Sebagian sebaiknya diarahkan ke daerah yang punya potensi bahan baku supaya rantai pasoknya lebih efisien dan nilai tambahnya kembali ke daerah,” ujar Mahyeldi. Ia menekankan pentingnya validitas data dalam mendukung arah kebijakan pembangunan daerah. “Kami perlu memastikan semua transaksi dan data ekonomi terekam dengan baik. Ini jadi dasar untuk mengambil kebijakan yang tepat,” tutupnya.