IPO Asia Tenggara Diprediksi Cerah Hingga 2026: Indonesia Pimpin?

JAKARTA – Prospek pasar penawaran umum perdana saham (IPO) di Asia Tenggara diperkirakan tetap cerah hingga tahun 2026. Indonesia dan Malaysia menjadi pemimpin volume IPO di kawasan ini, seiring total dana yang dihimpun secara signifikan meningkat 53% meskipun jumlah IPO cenderung menurun.

Dalam laporan terbarunya, Deloitte menilai perbaikan kondisi pasar mendorong calon emiten untuk mencermati perkembangan pasar modal. Langkah ini penting guna menentukan momentum terbaik untuk melantai di bursa.

“Hal ini agar mereka dapat memaksimalkan valuasi dan memanfaatkan permintaan likuiditas yang selama ini tertahan, sehingga membuka value yang belum terealisasi,” ujar Tay Hwee Ling, Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia, Minggu (23/11/2025).

Deloitte mencatat Indonesia membukukan 24 IPO sepanjang 2025. Dari pencatatan tersebut, total dana terkumpul mencapai US$ 921 juta atau sekitar Rp 15,35 triliun.

Sektor energi dan sumber daya mendominasi jumlah dana yang dihimpun, terutama dari perusahaan minyak dan gas, energi terbarukan, serta jasa pendukung pertambangan. Kontribusi terbesar datang dari dua IPO jumbo.

Dua pencatatan jumbo tersebut adalah PT Merdeka Gold Resource Tbk (EMAS) dengan nilai US$ 279 juta (Rp 4,65 triliun) dan PT Chandra Data Investasi Tbk (CDIA) yang menghimpun US$ 144 juta (Rp 2,4 triliun).

Sektor real estat juga menempati posisi berikutnya, didorong oleh pencatatan saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Disusul kemudian oleh sektor konsumsi yang dipimpin oleh PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI).

Tay menambahkan, aktivitas IPO di Indonesia didukung kuat oleh sektor industri, energi, konsumsi, dan layanan kesehatan. Investor menunjukkan minat besar pada perusahaan dengan fundamental solid, prospek pertumbuhan jangka panjang, serta dukungan kebijakan pemerintah.

“Sektor infrastruktur dan energi, khususnya energi terbarukan, juga mengalami peningkatan minat seiring banyaknya proyek strategis dan percepatan transisi toward clean energy,” jelas Tay.

Sementara itu, Malaysia memimpin dari sisi jumlah dengan 48 IPO yang berhasil menghimpun dana US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 18,33 triliun. Mayoritas dana tersebut berasal dari pasar ACE Market.

Hingga pertengahan November 2025, terdapat 102 IPO di enam bursa utama Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Total dana yang terkumpul mencapai US$ 5,6 miliar atau sekitar Rp 93,3 triliun.

Meski jumlah IPO menurun, total dana yang dihimpun justru naik 53% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh ukuran transaksi yang lebih besar, pergeseran dinamika sektor, dan kinerja bursa yang stabil di Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.

“Terjadi peningkatan IPO bernilai tinggi di sektor real estat data, jasa keuangan, dan konsumer,” tulis Deloitte.

Meskipun sentimen pasar membaik pasca Pemilu 2024, investor tetap berhati-hati menghadapi tekanan makro seperti penurunan harga komoditas, tensi perdagangan global, serta penyesuaian tenaga kerja. Deloitte menyebut pipeline IPO kuartal IV-2025 mencakup perusahaan teknologi, logistik, dan jasa keuangan.

Namun, minat yang besar hanya akan muncul jika perusahaan mampu menunjukkan profitabilitas dan ketahanan yang kuat.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy memproyeksikan jumlah IPO jumbo pada 2026 tidak akan terlalu banyak. “Yang besar kemungkinan hanya grup ABC, grup Orang Tua, Inalum, dan beberapa lighthouse lainnya,” katanya.

Jumlah perusahaan yang melantai di bursa pada 2026 diperkirakan tidak jauh berbeda dari tahun ini. Namun, kualitasnya kemungkinan lebih baik. “Sebab yang dikejar bukan lagi sekadar jumlah, tetapi perusahaan dengan fundamental kuat dan aset atau pendapatan besar,” tandas Budi.

Rekomendasi