

Jakarta Selatan – Hasil penelitian Inventure dan Alvara Research Center menunjukkan bahwa masyarakat paling mengkhawatirkan kenaikan harga bahan pokok, bukan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK). Temuan ini diungkapkan oleh Managing Partner Inventure, Yuswohady, dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan pada Selasa, 9 Desember 2025.
Yuswohady menegaskan bahwa kekhawatiran utama konsumen adalah kenaikan bahan pokok. Survei ini melibatkan mayoritas generasi milenial, baik perempuan maupun laki-laki, yang bekerja sebagai karyawan swasta atau BUMN dari kalangan menengah dan calon kelas menengah.
Dari total 600 responden, 37 persen memilih kenaikan harga bahan pokok sebagai pemicu utama kekhawatiran. Dalam paparannya, Yuswohady bahkan menyinggung kenaikan harga bahan pokok yang disinyalir karena kebutuhan akan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain kenaikan harga, riset Inventure-Alvara juga mengungkapkan penurunan pendapatan pribadi atau keluarga sebagai faktor kekhawatiran masyarakat. Penelitian ini membandingkan antara penghasilan dan pengeluaran responden dalam enam bulan terakhir.
Sebanyak 55 persen responden menyatakan penghasilan mereka tidak berubah dan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, 14 persen responden melaporkan bahwa penghasilan yang diterima tetap, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketidakcocokan antara pendapatan dan pengeluaran ini, menurut riset, disebabkan oleh peningkatan biaya hidup. Meskipun pendapatan tetap, biaya hidup yang tinggi memaksa mayoritas responden untuk melakukan penyesuaian dalam pengelolaan keuangan mereka.
Yuswohady juga menyebutkan bahwa ancaman PHK turut menimbulkan kecemasan. Riset Inventure-Alvara menunjukkan bahwa 16 persen responden khawatir terhadap ancaman PHK, terutama bagi pekerja di sektor-sektor yang rentan terpengaruh krisis dan digitalisasi.
Kombinasi faktor-faktor ini menambah ketegangan ekonomi, memaksa masyarakat untuk terus menyesuaikan keuangan dan pola gaya hidup mereka agar dapat bertahan.