

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi (5/1/2026) di tengah sentimen konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
IHSG mengawali perdagangan dengan kenaikan 30,60 poin atau 0,35 persen, mencapai posisi 8.778,73.
Sementara itu, indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham unggulan, juga mencatatkan kenaikan sebesar 2,08 poin atau 0,24 persen, berada di level 854,08.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta menyampaikan, eskalasi ketegangan politik global akibat serangan AS ke Venezuela akan menjadi fokus perhatian pelaku pasar.
Ratna menjelaskan IHSG berpotensi tertekan jika terjadi aksi jual oleh investor asing.
Namun, lanjutnya, kenaikan harga minyak mentah dan emas diperkirakan akan mendorong kenaikan harga saham sektor energi dan komoditas terkait.
Serangan AS ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya atas tuduhan terorisme dan narkoba menjadi perhatian utama.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa AS akan mengendalikan Venezuela hingga terjadi transisi kekuasaan dan perusahaan AS akan memperbaiki struktur perminyakan di negara tersebut.
Investor dikhawatirkan akan menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen investasi yang lebih aman seperti dolar AS dan emas.
Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati data ekonomi dari AS, termasuk data tenaga kerja, manufaktur, serta michigan consumer confidence.
Dari dalam negeri, rilis data ekonomi seperti inflasi, neraca perdagangan, cadangan devisa, dan consumer confidence akan menjadi fokus perhatian.
Bursa saham regional Asia juga menunjukkan penguatan, dengan indeks Nikkei naik 1.374,02 poin atau 2,73 persen ke 51.704,00, indeks Shanghai menguat 27,17 poin atau 0,68 persen ke 3.995,37, indeks Hang Seng menguat 23,03 poin atau 0,08 persen ke 26.385,00, dan indeks Strait Times menguat 24,12 poin atau 0,51 persen ke 4.679,02.