

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah signifikan pada perdagangan Kamis (23/4), menembus angka Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tersebut anjlok 119 poin atau 0,69 persen pada pukul 11.06 WIB.
Pelemahan ini didorong oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang memburuk, terutama akibat ketegangan geopolitik dan lonjakan harga energi global.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuabi, menyoroti bahwa pelemahan rupiah kali ini melampaui ekspektasi awal. Level Rp 17.300 yang sebelumnya diprediksi baru akan tercapai dalam periode lebih lama, kini terealisasi lebih cepat.
“Rupiah melemah sepanjang masa. Hari ini rupiah tembus di atas Rp 17.300,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Kamis (24/4). Ia menambahkan, ada kemungkinan besar rupiah akan menyentuh level Rp 17.400 pada akhir April, yang awalnya diperkirakan baru akan tercapai pada tahun 2026.
Dari sisi eksternal, memanasnya konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait jalur strategis Selat Hormuz, meningkatkan ketidakpastian pasar global dan mendorong penguatan dolar AS.
Ibrahim menjelaskan, konflik tersebut berpotensi berkepanjangan dan dapat mengganggu distribusi energi global. Kondisi ini turut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini sudah melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kenaikan harga minyak dunia memperburuk tekanan terhadap ekonomi domestik. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi harus menghadapi lonjakan biaya yang signifikan, berpotensi memperlebar defisit anggaran negara.
Di sisi domestik, tekanan juga berasal dari kebijakan fiskal pemerintah. Beban subsidi energi dinilai meningkat, terutama karena harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak ikut dinaikkan di tengah lonjakan harga minyak global.
Situasi ini mempersempit ruang fiskal pemerintah, sementara kebutuhan pembiayaan terus meningkat. Selain itu, posisi utang pemerintah yang mendekati jatuh tempo juga turut menambah tekanan pada stabilitas rupiah.
Ibrahim menekankan, lonjakan harga minyak yang sudah melampaui batas asumsi APBN menjadi faktor krusial yang mempercepat pelemahan rupiah. Dalam APBN 2026, harga minyak dipatok sebesar 70 dolar AS per barel dengan batas maksimal 92 dolar AS, namun saat ini harga riil sudah di atas level tersebut.
Kombinasi faktor eksternal dan internal ini membuat rupiah berpotensi terus tertekan dalam jangka pendek. Jika tidak ada perbaikan signifikan, nilai tukar diperkirakan masih akan bergerak menuju level Rp 17.400 dalam waktu dekat.