Pasar Saham dan Rupiah Bergejolak, Investor Mulai Lakukan Rebalancing Portofolio

Jakarta – Tekanan yang melanda pasar saham dan pelemahan nilai tukar rupiah membuat investor harus lebih cermat menyesuaikan portofolio atau mencari instrumen investasi yang lebih aman. Kondisi pasar saat ini menuntut strategi investasi yang mengedepankan diversifikasi dan ketahanan aset.

Hingga Rabu (13/5), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi sebesar 23,15 persen secara year to date (ytd) ke level 6.723,32. Penurunan ini dipicu oleh sentimen eksternal dan internal, termasuk pengumuman rebalancing MSCI dan FTSE Russel. Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot per Jumat (15/5) melemah ke level Rp 17.596 per dolar Amerika Serikat.

Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu, menyatakan bahwa koreksi pasar mencerminkan meningkatnya sikap menghindari risiko atau risk aversion, baik secara global maupun domestik. Menurutnya, alokasi aset yang disiplin jauh lebih penting daripada sekadar mencoba menebak titik terendah pasar.

Genta menyarankan investor tetap mempertahankan saham untuk horison jangka menengah hingga panjang, terutama pada emiten berfundamental kuat dan memiliki arus kas sehat. Namun, untuk menghadapi volatilitas, investor disarankan melirik instrumen alternatif seperti obligasi korporasi dengan yield kompetitif, instrumen pasar uang, deposito, hingga emas sebagai aset safe haven.

Terkait komposisi portofolio, investor agresif bisa mempertimbangkan 60 persen hingga 75 persen saham, 15 persen hingga 25 persen obligasi, serta sisanya berupa pasar uang dan emas. Bagi investor moderat, porsi saham disarankan berkisar 40 persen hingga 50 persen, sedangkan investor konservatif cukup mengalokasikan 10 persen hingga 25 persen pada instrumen saham.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, sepakat bahwa diversifikasi adalah kunci untuk menghindari kerugian pada seluruh instrumen secara bersamaan. Ia menyarankan investor agresif agar tidak hanya terpaku pada saham domestik, tetapi juga mempertimbangkan saham di pasar modal Amerika Serikat, baik secara langsung maupun melalui reksadana. Karena sulit menentukan harga dasar di pasar yang rentan, Rudiyanto menganjurkan strategi pembelian secara berkala.

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy. Ia mengingatkan investor untuk menambah porsi instrumen lindung nilai seperti emas, valuta asing, obligasi pemerintah, atau reksadana pasar uang. Reksadana pasar uang dinilai memiliki potensi imbal hasil realistis sebesar 4 persen hingga 6 persen per tahun, sedangkan Surat Berharga Negara (SBN) mampu memberikan 6 persen hingga 8 persen.

CEO and Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menekankan pentingnya sikap objektif dan perhitungan matang dalam melakukan rebalancing portofolio. Investor disarankan melakukan pengecekan ulang terhadap risiko dan target imbal hasil untuk memastikan portofolio tetap selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang di tengah gejolak pasar saat ini.

Rekomendasi