

Jakarta – Harga batu bara acuan di Asia melesat ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan akibat kebijakan ekspor baru dari Indonesia yang memicu keterlambatan pengiriman, di tengah lonjakan permintaan menjelang musim panas di kawasan Asia Timur Laut.
Sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia, Indonesia bulan lalu menerapkan kebijakan baru untuk memperketat kendali atas pengiriman sejumlah komoditas utama. Sistem yang mulai diberlakukan pada Juni tersebut sempat memicu kebingungan di kalangan pelaku industri dan menyebabkan penundaan pada sejumlah pengiriman batu bara.
Kondisi ini membuat pasar memproyeksikan bahwa batu bara asal Australia akan memainkan peran yang lebih besar untuk menambal kekurangan pasokan yang terjadi saat ini.
Di sisi lain, permintaan batu bara diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan datangnya cuaca panas di Asia Timur Laut. Peningkatan suhu udara memicu penggunaan pendingin ruangan yang lebih intensif, terutama di negara konsumen besar seperti China, sehingga kebutuhan bahan bakar untuk pembangkit listrik ikut terkerek naik.
Kombinasi antara terbatasnya pasokan dan proyeksi permintaan yang menguat membuat harga batu bara di pasar Asia terus berada dalam tekanan kenaikan. Kini, pelaku pasar tengah mencermati dampak lanjutan dari kebijakan ekspor Indonesia terhadap dinamika arus perdagangan global.