

Jakarta – Lesunya pasar mobil listrik di Amerika Serikat (AS) membuat Honda mengubah arah bisnisnya. Pabrikan asal Jepang itu kini mulai memproduksi baterai, bukan untuk kendaraan, melainkan sebagai sistem penyimpanan energi atau baterai stasioner untuk menghidupi data center.
Berdasarkan laporan Nikkei Asia yang dikutip TechCrunch, Sabtu (4/7/2026), langkah tersebut diambil tiga bulan setelah Honda membatalkan proyek kendaraan listriknya di AS.
Baterai yang semula direncanakan untuk kendaraan listrik itu akan diproduksi di pabrik di Ohio yang dioperasikan Honda melalui usaha patungan dengan LG Energy Solution. Namun, sel baterai tersebut kini akan dipakai di pusat data, bukan di jalan raya.
Keputusan itu dipicu lemahnya pasar kendaraan listrik di AS, yang semakin tertekan setelah Partai Republik mencabut insentif pajak untuk mendorong produksi EV dan baterai domestik.
Penjualan mobil listrik baru juga masih turun dibandingkan tahun sebelumnya, salah satunya karena konsumen mempercepat pembelian sebelum insentif berakhir pada September 2025.
Kondisi tersebut mendorong Honda melakukan penyesuaian besar terhadap strategi elektrifikasi dan membatalkan tiga model listrik yang sebelumnya direncanakan meluncur di pasar AS.
Honda juga mencatat penurunan nilai sebesar USD 15,7 miliar atau sekitar Rp 254,3 triliun pada tahun fiskal 2025, sebagian untuk merombak strategi kendaraan listriknya.