

Tanjung Enim – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) kini tengah mengintensifkan upaya untuk memperkuat ketahanan energi domestik melalui pengembangan sumber gas nonkonvensional di wilayah Sumatra Selatan.
Langkah strategis ini difokuskan pada pemanfaatan Coal Bed Methane (CBM) atau gas metana batu bara yang tersimpan melimpah di Tanjung Enim.
Berdasarkan data pemerintah, potensi cadangan CBM di wilayah tersebut mencapai 9,7 triliun kaki kubik atau Original Gas in Place (OGIP).
Estimasi nilai ekonomi dari potensi gas tersebut diperkirakan mencapai US$ 15,4 miliar atau setara dengan Rp 275,8 triliun dengan kurs Rp 17.911 per dolar AS.
Pemanfaatan sumber energi ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung baru dalam memenuhi lonjakan kebutuhan gas bagi sektor industri dan pembangkit listrik nasional.
PGN menyatakan kesiapan penuh, baik dari sisi teknis maupun komersial, untuk mengintegrasikan gas nonkonvensional ini ke dalam jaringan pipa yang ada.
Perusahaan telah menetapkan target penyaluran gas secara bertahap, dimulai dari 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) hingga mencapai kapasitas maksimal 25 MMSCFD.
“PGN menegaskan kesiapan teknis maupun komersial melalui penyusunan skema pemanfaatan gas bumi yang ada, dengan target penyaluran yang diproyeksikan tumbuh secara bertahap mulai dari 1 MMSCFD hingga mencapai 25 MMSCFD,” tulis PGN dalam pernyataan resmi pada Selasa (7/7).
Selain fokus pada CBM, PGN juga menjajaki potensi pengembangan biomethane yang bersumber dari limbah kelapa sawit serta Synthetic Natural Gas (SNG).
Sumatra Selatan dinilai sebagai pusat strategis yang memiliki ketersediaan sumber daya melimpah untuk ketiga jenis energi tersebut.
Untuk mengakomodasi distribusi pasokan yang beragam, PGN berencana membangun infrastruktur *injection point* sebagai titik pengumpul utama.
Infrastruktur ini akan berfungsi sebagai hub sebelum gas dialirkan ke dalam sistem pipa transmisi yang telah beroperasi saat ini.
“Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coal bed methane, dari biomethane ataupun juga sumber lainnya akan dikumpulkan yang kemudian akan dimasukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada,” ujar Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto.
Dalam upaya mempercepat hilirisasi, PGN juga telah menjalin kolaborasi strategis dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Kerja sama ini difokuskan pada pengolahan cadangan *low-rank coal* atau batu bara berkalori rendah milik PTBA menjadi SNG.
Lokasi proyek yang berdekatan dengan jaringan pipa transmisi PGN di Pagardewa memberikan keuntungan efisiensi biaya pembangunan infrastruktur.
Sepanjang tahun 2025, kedua perusahaan memfokuskan agenda pada penyusunan studi kelayakan yang komprehensif.
Studi ini mencakup desain fasilitas produksi SNG, perencanaan jaringan pipa, serta pemodelan skema bisnis yang berkelanjutan.
SNG sendiri memiliki karakteristik yang mirip dengan gas bumi, sehingga sangat fleksibel untuk digunakan sebagai bahan bakar maupun bahan baku di sektor industri.
Pasokan SNG ini nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri di wilayah Jawa bagian barat yang saat ini mengalami kendala pasokan.
“Inisiatif ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam hilirisasi dan kemandirian energi. Jika terealisasi, proyek ini berpotensi memperkuat pasokan gas dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ungkap Rosa Permata Sari, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN.
PGN terus melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Holding Migas Pertamina.
Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian studi kelayakan dan eksekusi proyek tetap berjalan sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan transparan.