Indeks Wall Street Melemah Akibat Aksi Jual Saham Sektor AI

cfdaf1abd67c60ad0be24eb40b169923.jpg

New York – Bursa saham Wall Street mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada perdagangan Selasa (7/7) waktu setempat.

Sentimen negatif ini dipicu oleh aksi profit taking investor terhadap saham-saham sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kenaikan harga minyak dunia yang terjadi secara mendadak turut memperparah kondisi pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 130,76 poin atau 0,25% ke level 52.925,15.

Padahal, indeks tersebut sempat mencetak rekor tertinggi intraday sebelum akhirnya tergerus aksi jual.

Indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan lebih dalam sebesar 1,16% ke level 25.818,69.

Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 0,45% dan berakhir di posisi 7.503,85.

Direktur Riset FBB Capital Partners, Mike Bailey, menilai pelemahan ini merupakan konsekuensi dari ekspektasi pasar yang terlalu tinggi.

Menurutnya, antusiasme investor terhadap sektor AI saat ini sudah melampaui kemampuan fundamental perusahaan dalam merealisasikan target kinerja.

“Ekspektasi sudah sangat tinggi, tetapi fundamental perusahaan kesulitan memenuhi tuntutan tersebut,” ujar Bailey.

Ia menambahkan bahwa kondisi inilah yang memicu pelemahan pasar secara menyeluruh pada sesi perdagangan hari ini.

Bailey memprediksi adanya tren rotasi dana dari saham-saham AI menuju sektor lain yang dinilai lebih stabil.

Saham Micron memimpin pelemahan di sektor teknologi dengan koreksi tajam sebesar 4,7%.

Tekanan serupa juga dialami oleh saham KLA, Marvell Technology, Broadcom, hingga AMD yang ditutup di zona merah.

Bahkan, VanEck Semiconductor ETF (SMH) sebagai instrumen acuan sektor semikonduktor anjlok lebih dari 3%.

Di sisi lain, investor mulai mengalihkan modalnya ke saham sektor kesehatan, keuangan, serta perusahaan teknologi berkapitalisasi besar.

Saham Eli Lilly tercatat naik hampir 3%, sementara JPMorgan Chase dan Microsoft turut menunjukkan penguatan di tengah gejolak pasar.

Geopolitik menjadi faktor tambahan yang menekan sentimen investor global.

Harga minyak mentah dunia melesat setelah adanya serangan terhadap kapal pengangkut gas alam cair milik Qatar di dekat Selat Hormuz.

Harga minyak mentah Brent melonjak 3% ke level US$ 74,16 per barel saat penutupan pasar.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat hampir 3% menjadi US$ 70,44 per barel.

Situasi makin diperkeruh dengan keputusan Amerika Serikat yang mencabut pengecualian penjualan minyak Iran.

Tekanan pada sektor AI sebenarnya sudah terlihat lebih dulu di bursa Asia.

Indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 5% akibat penurunan harga saham Samsung Electronics sebesar 7%.

Investor merespons negatif kinerja Samsung meskipun perusahaan tersebut sebenarnya membukukan kenaikan laba kuartal kedua.

Pasar justru lebih menyoroti kekhawatiran mengenai melambatnya belanja modal dan permintaan global.

Indeks Stoxx 600 di Eropa pun tidak luput dari dampak negatif dengan penurunan sekitar 0,7%.

Analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, berpendapat bahwa reaksi pasar mencerminkan tingginya ekspektasi menjelang musim laporan keuangan.

Perusahaan saat ini dituntut untuk memberikan performa yang jauh melampaui capaian kuartal sebelumnya agar tidak mengecewakan investor.

Sentimen tambahan muncul dari laporan mengenai perusahaan rintisan asal Cina, DeepSeek, yang tengah mengembangkan cip AI mandiri.

Langkah tersebut dinilai berpotensi mengancam dominasi Nvidia dan Samsung dalam rantai pasok semikonduktor global.

Rekomendasi