

Jakarta – Kenaikan biaya komponen memori diperkirakan membuat jumlah HP di bawah USD 400 atau sekitar Rp 7,2 juta di pasar menyusut 22% sepanjang sisa 2026 hingga 2027.
Laporan terbaru Omdia menyebut, ponsel premium seperti iPhone 17 Pro Max dan Samsung Galaxy S26 Ultra yang dibanderol jauh di atas USD 1.000 atau Rp 18 jutaan terus mendorong batas keterjangkauan. Di sisi lain, konsumen beranggaran terbatas cenderung memilih perangkat yang lebih murah meski harus mengesampingkan fitur mewah.
Jika produsen ponsel murah tersingkir dari pasar, pembeli dengan kemampuan finansial terbatas menjadi pihak yang paling terdampak.
Dilansir Cnet, Sabtu (11/7/2026), analis Zaker Li mengatakan biaya produksi memori untuk ponsel di kisaran harga tersebut hampir meningkat dua kali lipat antara kuartal ketiga 2025 dan kuartal pertama 2026.
Berdasarkan laporan Tren Teknologi Smartphone Kuartalan dari Omdia, untuk ponsel di atas USD 400 atau Rp 7,2 juta, biaya memori bahkan melonjak lebih dari 100%.
Li menyebut beberapa perusahaan berupaya menekan dampak kenaikan harga memori dengan memangkas biaya komponen lain, seperti layar, sensor, dan modul frekuensi radio yang ketersediaannya cukup.
Namun, ia menilai hampir tidak ada ruang untuk menjaga harga tetap rendah di tengah lonjakan harga memori yang pesat.
Ia menambahkan, produsen ponsel asal Tiongkok seperti Oppo, Vivo, Honor, Xiaomi, dan Transsion pada akhirnya terpaksa menaikkan harga. Kondisi itu membuat konsumen yang sangat sensitif terhadap harga berhenti membeli.
Li juga memprediksi, seiring permintaan yang terus menurun akibat harga yang tinggi, perusahaan bisa menghentikan produksi ponsel kelas bawah.