

Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran menyusul adanya laporan intelijen mengenai rencana pembunuhan yang menyasar dirinya.
Trump menyatakan bahwa pemerintahannya telah menyiapkan ribuan rudal yang siap diluncurkan jika Teheran benar-benar berupaya mencelakai pemimpin Amerika Serikat tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Trump melalui akun media sosial miliknya, Truth Social.
“Sebanyak 1.000 rudal telah siap dan diarahkan ke Iran, dengan ribuan rudal lainnya akan segera menyusul, apabila pemerintah Iran menjalankan ancamannya untuk membunuh atau mencoba membunuh Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini SAYA!” tulis Trump dengan penekanan pada identitas dirinya.
Trump mengeklaim bahwa dirinya telah memberikan instruksi khusus kepada militer Amerika Serikat untuk bersiaga penuh.
Ia menegaskan bahwa militer AS memiliki kapasitas, kesiapan, dan kemauan untuk meluluhlantakkan seluruh wilayah Iran jika ancaman tersebut terealisasi.
Instruksi ini dipersiapkan untuk periode satu tahun dengan kemungkinan perpanjangan waktu.
Ketegangan ini dipicu oleh laporan dari The Wall Street Journal yang menyebut bahwa Israel telah membagikan data intelijen kepada pihak Amerika Serikat.
Laporan tersebut mengindikasikan bahwa Iran diduga sedang menyusun skenario baru untuk melakukan serangan yang menargetkan nyawa Trump.
Situasi keamanan di kawasan tersebut kembali memanas meski kedua negara sebelumnya sempat berupaya menempuh jalur diplomasi.
Pada Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat sebenarnya telah menandatangani nota kesepahaman atau MoU yang dimediasi oleh Pakistan.
Perjanjian tersebut ditujukan untuk mengakhiri konflik bersenjata yang pecah sejak akhir Februari tahun yang sama.
MoU tersebut mencakup kesepakatan penghentian pertempuran, pencabutan blokade laut oleh Amerika Serikat, serta pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Namun, implementasi perdamaian tersebut kini berada di ambang kehancuran.
Kedua negara dilaporkan kembali terlibat dalam aksi saling serang yang menyasar aset-aset penting dan lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz pada pekan ini.
Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target strategis di dalam wilayah Iran.
Sebagai balasan, Teheran melakukan serangan balik yang menyasar aset-aset milik Amerika Serikat di berbagai lokasi di kawasan tersebut.
Trump sebelumnya juga telah menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran secara resmi telah berakhir.
Meski demikian, Washington sempat sepakat untuk melanjutkan perundingan yang dimintakan oleh pihak Teheran untuk meredam eskalasi konflik.
Situasi geopolitik yang sangat fluktuatif ini membuat hubungan kedua negara kembali berada pada titik nadir yang membahayakan stabilitas global.