

Jakarta – Harga smartphone flagship terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Kini, tidak sedikit perangkat premium yang dibanderol belasan hingga puluhan juta rupiah.
Meski demikian, permintaan terhadap segmen flagship justru tetap tinggi dan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan pasar smartphone premium.
Laporan berbagai lembaga riset seperti Counterpoint Research serta analisis dari media teknologi internasional menunjukkan konsumen masih bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman terbaik dari smartphone flagship.
Tren ini dikenal sebagai premiumisasi, yakni pergeseran minat konsumen menuju perangkat dengan harga lebih tinggi namun menawarkan nilai tambah yang lebih besar.
Lantas, mengapa HP flagship tetap diburu meski harganya terus naik?
Salah satu alasan utama konsumen memilih flagship adalah kualitas kameranya. Produsen seperti Apple, Samsung, Google, Xiaomi, hingga OPPO terus mengembangkan sensor berukuran besar, lensa telefoto periskop, kamera ultra-wide berkualitas tinggi, serta teknologi fotografi komputasional berbasis AI.
Hasilnya, pengguna dapat menghasilkan foto dan video yang mendekati kualitas kamera profesional tanpa harus membawa perangkat tambahan. Kemampuan merekam video 4K hingga 8K, stabilisasi gambar optik (OIS), serta mode malam yang semakin baik menjadi nilai jual utama yang sulit ditandingi ponsel kelas menengah.
Chipset flagship terbaru seperti Qualcomm Snapdragon seri 8 dan Apple A-Series dirancang untuk memberikan performa tinggi dalam jangka panjang.
Tidak hanya mampu menjalankan game berat dan proses editing video, performanya juga tetap kompetitif hingga empat atau lima tahun ke depan. Bagi banyak pengguna, membeli flagship berarti mengurangi kebutuhan untuk sering mengganti smartphone.
Daya tahan performa inilah yang membuat harga tinggi dianggap lebih masuk akal jika dihitung berdasarkan masa pakai perangkat.
Era kecerdasan buatan membuat smartphone flagship memiliki keunggulan baru. Fitur seperti penerjemah real-time, pengeditan foto generatif, pencarian visual, transkripsi otomatis, hingga asisten AI di perangkat membutuhkan chipset dengan Neural Processing Unit (NPU) yang lebih canggih.
Komponen tambahan tersebut ikut meningkatkan biaya produksi, tetapi juga memberikan pengalaman yang sulit ditemukan pada perangkat murah. AI kini menjadi salah satu alasan utama mengapa konsumen bersedia naik ke kelas flagship.