

JAKARTA – Pasar tas mewah (luxury bag) menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global pada kuartal I-2026. Namun, perilaku konsumen kini semakin selektif, di mana kalangan high net worth individual (HNWI) tetap berbelanja, sementara kelas menengah cenderung menahan pembelian bahkan mulai melepas koleksi mereka.
Kolektor tas mewah, Rita Efendy, mengungkapkan bahwa permintaan tas luxury masih kuat, khususnya dari segmen HNWI. Ia menjelaskan, kalangan atas melihat pembelian tas mewah sebagai bagian dari strategi menjaga nilai aset. Sebaliknya, kelas menengah justru lebih berhati-hati dan beberapa di antaranya menjual koleksi untuk mengamankan likuiditas.
Fenomena menarik lainnya adalah pergeseran minat di segmen menengah ke bawah yang mulai beralih ke tas pre-loved atau bekas. Pergeseran ini tampak jelas dengan maraknya bazar tas bekas yang kini semakin ramai peminat.
Bagi kolektor kelas atas, tas mewah tidak hanya berfungsi sebagai barang konsumsi, melainkan telah berkembang menjadi alternatif investasi. “Jika logam mulia dikenal sebagai aset defensif, tas luxury, khususnya merek tertentu, lebih dilihat sebagai passion investment yang nilainya bisa stabil bahkan meningkat melampaui inflasi,” ujar Rita.
Dari sisi tren, Rita menyebut model klasik masih mendominasi pasar di awal tahun ini. Tas seperti seri Birkin dan Kelly dari Hermès tetap menjadi incaran utama, dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta hingga di atas Rp 1 miliar. Produk dari Chanel juga mengalami peningkatan permintaan, seiring dengan hadirnya desainer baru, Matthew Blazy, yang merilis koleksi terbatas.
Sementara itu, produk dari merek lain seperti LV, Dior, Bottega, dan Fendi masih menunjukkan stabilitas karena ketersediaannya yang cenderung lebih banyak dan mudah dibeli.
Melihat prospek ke depan, Rita menilai pasar tas mewah tidak akan mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun 2026, namun akan semakin tersegmentasi. Tas dengan desain klasik dan bersifat timeless akan tetap diminati karena memiliki nilai investasi yang lebih terjaga, berlawanan dengan produk yang mengikuti tren cenderung lebih fluktuatif.
“Ke depan, hanya tas tertentu yang benar-benar bisa dianggap sebagai aset alternatif dan layak dikoleksi dalam jangka panjang,” tambahnya.
Faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan euro juga turut memengaruhi harga tas mewah di dalam negeri. Pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga, yang secara tidak langsung justru meningkatkan nilai koleksi yang sudah dimiliki investor.