

JAKARTA – Kinerja emiten batubara diproyeksikan mengalami perbaikan pada tahun 2026, setelah menghadapi tekanan penurunan harga jual rata-rata (ASP) di tahun 2025. Prospek positif ini didorong oleh kenaikan harga batubara global serta sentimen dari pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang menopang harga komoditas.
Analis Muhammad Wafi dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia menjelaskan, pemangkasan RKAB memang menekan volume produksi dan penjualan. Namun, kenaikan harga batubara berhasil mengimbangi penurunan volume tersebut, sehingga margin emiten tetap solid. Menurutnya, prospek sektor batubara positif karena margin dapat terdorong oleh tingginya harga acuan global, mengompensasi keterbatasan ekspansi volume.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai pemangkasan RKAB justru berdampak positif bagi sebagian besar emiten batubara. Hal ini berlaku khususnya bagi pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi 1 atau Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), maupun BUMN pemegang izin usaha pertambangan (IUP).
Dengan harga batubara yang berada di level tinggi, Harry Su memperkirakan sektor ini memiliki prospek bagus, terutama untuk pemain yang tidak terkena potongan RKAB.
Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengatakan bahwa pemangkasan RKAB cenderung positif bagi harga namun negatif bagi volume. Dampaknya ke emiten bersifat campuran, bergantung pada struktur biaya masing-masing. Sebaliknya, kenaikan harga batubara berdampak signifikan terhadap margin dan laba, terutama bagi produsen berbiaya rendah dengan leverage operasional tinggi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan, volume produksi batubara yang telah disetujui sekitar 580 juta ton per awal April 2026. Angka ini mendekati kuota produksi batubara tahun 2026 yang mencapai 600 juta ton. Berdasarkan data Trading Economics, harga batubara berada di level US$ 132,30 per ton, naik 23,07% secara year to date (ytd).
Sukarno Alatas memperkirakan kinerja emiten batubara pada kuartal II-2026 akan membaik secara quarter on quarter (qoq). Kenaikan harga batubara sejak awal tahun menjadi penopang margin, meskipun belum cukup untuk mengimbangi penurunan harga rata-rata dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, pembatasan produksi (RKAB) berpotensi menahan volume penjualan, sehingga pertumbuhan pendapatan cenderung terbatas.
Sektor batubara masih menghadapi beberapa tekanan struktural. Sukarno melihat adanya permintaan global yang stagnan dari Tiongkok dan India, serta potensi oversupply yang dapat menahan kenaikan harga. Dari domestik, pemangkasan RKAB menjadi risiko utama terhadap volume, sementara faktor operasional seperti cuaca dan kenaikan biaya juga dapat menekan margin.
Wafi menambahkan, tantangan juga berasal dari beban royalti yang tinggi dan pengetatan pendanaan perbankan akibat isu environmental, social, and governance (ESG). Sejumlah sentimen lain yang perlu diperhatikan meliputi ketegangan geopolitik global yang dapat menjadi pendorong harga energi, realisasi permintaan batubara pada musim panas, dan kebijakan domestik terkait domestic market obligation (DMO).
Harry Su juga menyoroti pentingnya investor mencermati setiap perkembangan perang Iran dengan AS dan Israel. Kerusakan pada fasilitas minyak mentah, gas, dan LNG akan menstimulus permintaan batubara sebagai energi alternatif termurah.
Terkait rekomendasi, Harry Su merekomendasikan beli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan target harga Rp 300 per saham. Sementara itu, Sukarno Alatas merekomendasikan hold saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 3.200 per saham. Wafi merekomendasikan beli saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 2.800 per saham, beli saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp 13.000 per saham, dan beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.100 per saham.