Rupiah Terus Melemah, Industri dan Tenaga Kerja Terancam

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan pekan ini. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari kondisi ekonomi domestik maupun ketidakpastian geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (27/5), rupiah di pasar spot melemah 0,03% secara harian ke level Rp 17.801 per dolar AS. Tren pelemahan ini menyambung performa negatif pada Selasa (26/5), di mana rupiah ditutup melemah 0,30% ke level Rp 17.796 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah ini memperburuk krisis kepercayaan pasar yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, depresiasi rupiah secara otomatis meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius terkait gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Ibrahim menyebutkan bahwa tekanan industri kini tidak hanya berasal dari pelemahan kurs, tetapi juga kenaikan harga BBM industri nonsubsidi akibat konflik geopolitik global.

Lonjakan angka PHK mulai terlihat dalam satu bulan terakhir seiring banyaknya perusahaan yang menempuh langkah efisiensi hingga penghentian operasional. Ibrahim memprediksi potensi PHK di sektor industri formal dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan. Sebagai gambaran, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 15.425 pekerja telah terdampak PHK sepanjang Januari hingga April 2026.

Selain sentimen domestik, pasar saat ini mencermati perkembangan negosiasi geopolitik antara AS dan Iran terkait program nuklir yang berdampak pada volatilitas harga minyak mentah dunia.

Menjelang akhir pekan, pelaku pasar diperkirakan masih akan memantau arah kebijakan moneter AS. Rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.000 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026).

Rekomendasi