

Jakarta – Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai Bank Indonesia Floating Rate Note (BI-FRN) yang direncanakan terbit pada 17 November 2025, bertujuan utama memperkuat transmisi kebijakan moneter ke pasar uang dan sektor keuangan. Surat berharga dengan suku bunga mengambang berbasis IndONIA ini, menurut perusahaan sekuritas tersebut, akan meningkatkan efektivitas transmisi moneter.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, pada Rabu, 13 November 2025, menjelaskan bahwa kupon mengambang BI-FRN yang menyesuaikan dengan pergerakan suku bunga acuan pasar IndONIA akan membuat transmisi moneter lebih efektif.
Ia menambahkan, BI-FRN diharapkan mampu memperkuat keterhubungan antara BI-Rate dengan penurunan suku bunga simpanan dan kredit. Mekanisme pasar yang terbuka, likuid, dan transparan menjadi kunci dalam pencapaian tujuan ini.
Namun, Rully berpendapat instrumen ini akan lebih menarik bagi investor non-bank jika terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga. Investor institusional yang ingin menjaga nilai portofolio dari tekanan kenaikan biaya dana dapat melihat BI-FRN sebagai opsi yang lebih responsif dibandingkan instrumen suku bunga tetap.
Sebagai tahap awal, BI-FRN akan dilelang kepada dealer utama di pasar perdana. Ke depannya, surat berharga ini juga akan diperdagangkan di pasar sekunder dan dapat dimiliki oleh bank, institusi non-bank, serta investor asing atau nonresiden.
Kepala Grup Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Fitra Jusdiman, dalam taklimat media di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 7 November 2025, mengungkapkan bahwa tujuan utama penerbitan BI-FRN adalah mengembangkan pasar Overnight Index Swap (OIS). OIS merupakan instrumen lindung nilai suku bunga yang melibatkan pertukaran dua jenis pendapatan dari suku bunga berbeda, yakni suku bunga tetap dan suku bunga mengambang.
Fitra menjelaskan, dengan adanya suku bunga IndONIA yang berubah-ubah pada BI-FRN, pelaku pasar akan terdorong untuk bertransaksi di pasar OIS. “Karena adanya risiko fluktuasi suku bunga tadi, makanya kemudian ini bisa memicu pemegang BI-FRN untuk melakukan yang namanya hedging (lindung nilai) melalui instrumen OIS,” ujarnya.