11 Ribu Hektare Lahan Sawah Rusak Akibat Banjir Sumatera

KEMENTERIAN Pertanian melaporkan setidaknya 11 ribu hektare lahan sawah mengalami kerusakan berat atau puso akibat banjir Sumatera. “Itu semua akan kami cetak ulang, dan pemerintah yang mengerjakannya,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dalam keterangan tertulis, Kamis, 11 Desember 2025.

Amran mengatakan Kementerian Pertanian akan segera memulihkan lahan rusak tersebut melalui program cetak ulang. Salah satu lahan yang disoroti Amran adalah area perkebunan kopi. Ia mengatakan kementeriannya juga akan melakukan peremajaan tanam atau replanting terhadap lahan kopi di Aceh yang mengalami kerusakan total.

Ia menyatakan pemulihan lahan pertanian merupakan prioritas pemerintah, tujuannya agar memulihkan kembali kehidupan petan dan menjaga ketahanan pangan. “Kita akan pantau dan segera bantu. Insya Allah sektor pertanian akan kami selesaikan,” kata dia.

Banjir dan longsor menghantam tiga provinsi di Sumatera pada Selasa, 25 November 2025. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 11 Desember 2025, total korban jiwa banjir Sumatera menembus 990 orang, sementara 225 lainnya hilang, dan lebih dari 5.000 warga luka-luka.

Angka ini berasal dari 52 kabupaten atau kota di tiga provinsi yang terdampak. Aceh menjadi provinsi paling terpukul dengan 407 korban meninggal. Disusul Sumatera Utara 343 meninggal dan Sumatera Barat dengan 240 korban jiwa.

Dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Ivanovich Agusta, mengatakan bencana Sumatera tidak hanya merusak infrastruktur namun juga kondisi sosial. Dampak sosial pascabencana ini dianggap kerap luput dari perhatian publik. “Bencana bukan hanya merusak fisik rumah, tetapi juga merusak sistem sosial yang menjaga kerekatan dan identitas desa,” ujarnya lewat keterangan tertulis, Kamis, 11 Desember 2025.

Menurut Ivanovich, masyarakat yang terdampak mengalami disrupsi mendadak dalam struktur sosial dan relasi antarwarga. Salah satu yang kentara adalah dislokasi sosial, yakni hilangnya ruang-ruang komunal seperti balai desa, musala, pasar, hingga jalan yang selama ini menjadi pusat interaksi masyarakat.

Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi dan komunikasi turut melemah, menjadi ujian untuk solidaritas sosial.

Bahala banjir bandang dan longsor itu juga memicu tekanan psikososial, berupa rasa takut, trauma, serta ketidakpastian masa depan. Kondisi ini berdampak pada menurunnya semangat kerja dan partisipasi warga dalam kehidupan sosial.

Ivanovich juga menyinggung soal pranata sosial desa yang ikut terganggu. Jadwal tanam petani, kegiatan kelompok tani, arisan, posyandu, hingga aktivitas keagamaan terhenti sementara akibat kerusakan wilayah dan akses.

Irsyan Hasyim berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Dampak Pencabutan Izin Perusahaan Pemicu Banjir Sumatera

Rekomendasi