Dividen 2025 Jaring Investor Saham Big Caps: Perbankan & Komoditas Jadi Primadona

Jakarta – Rencana pembagian dividen akhir tahun 2025 diprediksi terus menjadi daya tarik utama bagi investor, khususnya yang mengincar saham emiten berkapitalisasi besar.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebutkan bahwa *dividend yield* dari saham sektor perbankan dan komoditas masih sangat kompetitif, seiring dengan ekspektasi pasar yang semakin positif menuju tahun 2026.

Abida mencontohkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang telah menetapkan pembagian dividen interim sebesar Rp137 per saham untuk tahun buku 2025, dengan jadwal pembayaran pada 15 Januari 2026. Menurutnya, imbal hasil dividen dari saham-saham *big caps* tetap menarik sebagai sumber pendapatan yang stabil di tengah volatilitas pasar global.

“Dividend yield saham perbankan dan komoditas, seperti batubara, masih atraktif, apalagi di tengah optimisme terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun 2026,” ujar Abida pada Kamis (18/12/2025).

Dari sisi strategi, Abida menyarankan investor untuk menerapkan pendekatan *dividend capture*. Investor perlu mencermati tanggal *cum-dividend* agar tetap berhak menerima dividen. Namun, investor juga harus mewaspadai potensi jebakan dividen (*dividend trap*) pada hari *ex-dividend*.

Untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih rendah, Abida merekomendasikan strategi akumulasi bertahap jauh sebelum tanggal *cum-date*. Selain itu, investor yang melakukan reinvestasi dividen ke saham-saham dengan fundamental kuat dinilai dapat mempercepat pertumbuhan portofolio jangka panjang melalui efek bunga majemuk.

Mengenai prospek pasca pembagian dividen, Abida menilai fundamental emiten-emiten besar tetap solid. Meskipun secara teknikal harga saham berpotensi terkoreksi sesaat setelah pembagian dividen, kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi.

“Selama emiten mampu menjaga pertumbuhan laba dan efisiensi operasional, koreksi pasca dividen bisa menjadi momentum *buy on weakness*,” tegas Abida.

Ia menambahkan, ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada 2026 serta stabilitas ekonomi makro menjadi faktor pendukung utama yang menjaga daya tarik saham-saham berdividen tinggi ke depan.

Rekomendasi