

Jakarta – Kinerja PT Timah Tbk (TINS) menunjukkan lonjakan laba bersih pada kuartal III-2025, mencapai Rp 602 miliar. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan laba bersih semester I-2025 yang sebesar Rp 300 miliar.
Meski demikian, kinerja operasional TINS masih tertekan. Pendapatan perseroan tercatat menyusut 20% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 6,61 triliun, dari sebelumnya Rp 8,25 triliun.
Produksi bijih timah TINS juga merosot 20% (yoy) menjadi 12.197 ton Sn. Produksi logam timah terkoreksi 25% (yoy) menjadi 10.855 metrik ton, dan penjualan logam timah berkurang 30% (yoy) menjadi 9.469 metrik ton.
Namun, prospek pemulihan TINS dinilai masih terbuka sejalan dengan pengetatan tambang ilegal dan potensi kenaikan harga timah pada 2026.
Analis Sinarmas Sekuritas, Inav Haria Chandra dan Kenny Shan, menilai langkah tegas pemerintah Indonesia terhadap penambangan timah ilegal dapat menjadi titik balik penting bagi TINS. Pada Oktober 2025, pemerintah menutup sekitar 1.000 lokasi tambang ilegal di Bangka Belitung.
Manajemen TINS menargetkan produksi timah pada 2026 berada di kisaran 30.000 metrik ton, naik sekitar 40% dibandingkan target 21,5 ribu ton pada 2025.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, berpendapat target ini masih punya peluang untuk terealisasi, asalkan upaya pemerintah dalam memberantas aktivitas tambang ilegal di Bangka-Belitung dapat berjalan sesuai target.
Sejumlah analis juga melihat prospek harga timah yang kondusif. Bank investasi global memperkirakan harga timah akan menguat menuju US$ 40.000 per ton hingga 2026, didorong oleh pemulihan permintaan dan keterbatasan pasokan di Indonesia dan Myanmar.
Research Analyst Henan Sekuritas, Dennis Tay, melihat TINS sebagai pihak yang paling diuntungkan dari prospek harga timah yang konstruktif. Dennis memperkirakan laba TINS pada 2025 sebesar Rp 1,31 triliun atau naik 11% (YoY), dan pada 2026 mencapai Rp 2,07 triliun, melonjak sekitar 58% (YoY).
Dennis memberikan rekomendasi “BUY” saham TINS dengan target harga Rp 4.200 per saham. Inav dan Kenny dari Sinarmas Sekuritas juga memberikan rekomendasi “BUY” dengan target harga Rp 4.700 per saham, serta Harry Su dari Samuel Sekuritas dengan target harga Rp 5.000 per saham.