IHSG Cetak Rekor Emas 2025, Investor Pantau Prospek 2026

Jakarta – Pasar modal Indonesia mencatatkan kinerja gemilang di penghujung tahun 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 21,88 persen hingga 29 Desember 2025, menjadi performa tahunan terbaik dalam satu dekade terakhir.

Kenaikan IHSG yang signifikan ini dipicu oleh perubahan besar dalam selera risiko (risk appetite) investor. Hal ini terlihat dari ramainya penawaran umum perdana saham (IPO) sepanjang tahun dengan 26 emiten baru, sebagian besar dari kelompok konglomerasi.

Sektor Teknologi Jadi Penopang Utama

Sektor teknologi menjadi pendorong utama penguatan IHSG. Indeks sektor teknologi (IDXTechno) melesat 137 persen sepanjang tahun 2025. Sektor industri (IDXIndustr) menyusul dengan kenaikan 110 persen, serta sektor infrastruktur (IDXInfra) naik 78 persen.

Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), menilai reli tajam ini mencerminkan optimisme pasar terhadap akselerasi transformasi digital nasional dan meningkatnya belanja modal domestik.

Investor Diminta Lebih Selektif di 2026

Namun, Azharys mengingatkan agar investor tetap berhati-hati memasuki fase pasar berikutnya. Ia menyarankan pendekatan investasi yang lebih selektif di tahun 2026, dengan fokus pada keberlanjutan kinerja portofolio di tengah potensi peningkatan volatilitas.

Sektor energi, khususnya minyak dan gas bumi (migas), dinilai menarik untuk dicermati. Harga minyak Brent yang tertekan sepanjang 2025 membuka peluang rebound di tahun berikutnya.

“Memasuki tahun 2026, strategi investasi harus bergeser menjadi lebih selektif. Saya menyarankan investor untuk mencermati sektor energi, khususnya migas,” ujar Azharys.

Keseimbangan Portofolio Jadi Kunci

Kenaikan IHSG yang fantastis juga meningkatkan risiko koreksi. Investor perlu menyeimbangkan portofolio agar tidak terlalu terpapar aset berisiko tinggi, salah satunya dengan mengalokasikan dana ke instrumen yang lebih defensif, seperti reksadana.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menambahkan bahwa kenaikan IHSG tidak merata di seluruh saham, melainkan mencerminkan seleksi terhadap kualitas emiten.

Diversifikasi Sektor untuk Hadapi Gejolak

Reydi juga mengingatkan investor tentang risiko berinvestasi di pasar saham, seiring dengan ketidakpastian global, tensi geopolitik, suku bunga tinggi, dan perang dagang. Ia menyarankan diversifikasi sektor agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber pertumbuhan.

“Memasuki 2026, investor perlu mempertimbangkan untuk mengkombinasikan saham defensif dan siklikal agar siap menghadapi fluktuasi pasar,” kata Reydi.

Reydi juga menyoroti dominasi investor domestik dalam kepemilikan IHSG saat ini. Investor perlu mencermati potensi masuknya investor asing secara agresif, yang dapat mengubah arah pergerakan IHSG.

Rekomendasi