

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengawali tahun 2026 dengan catatan positif pada perdagangan Jumat (2/1/2026), meskipun ekspektasi *Santa Claus rally* tidak terwujud.
Penguatan ini mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama empat hari berturut-turut di Wall Street.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 319,10 poin atau 0,66% ke level 48.382,39. Indeks S&P 500 menguat 12,97 poin atau 0,19% menjadi 6.858,47. Sementara itu, Nasdaq Composite justru turun tipis 6,36 poin atau 0,03% ke posisi 23.235,63.
Reli saham-saham semikonduktor dan sektor industri menjadi pendorong utama kenaikan pasar saham di awal tahun ini.
Indeks Philadelphia SE Semiconductor melonjak 4%, didukung oleh kinerja Nvidia dan Intel. Saham Caterpillar dan Boeing juga mencatatkan kenaikan signifikan, masing-masing sebesar 4,5% dan 4,9%, yang turut mendorong penguatan Dow.
Namun, kenaikan pasar sedikit tertahan oleh tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar. Saham Apple dan Microsoft mengalami pelemahan, sementara saham sektor konsumsi diskresioner seperti Amazon juga menekan pergerakan S&P 500 dan Nasdaq.
Saham Tesla turun 2,6% setelah perusahaan mengumumkan penurunan penjualan tahunan untuk tahun kedua berturut-turut.
Analis menilai pergerakan pasar saat ini mencerminkan strategi investor yang memanfaatkan volatilitas jangka pendek. Joe Mazzola dari Charles Schwab menyebut pasar tengah berada dalam pola “buy the dip, sell the rip“.
Investor, menurutnya, mulai lebih berhati-hati terhadap valuasi saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI). “Namun setiap kali ada koreksi, investor tetap masuk membeli. Saya belum melihat pola itu akan berhenti dalam waktu dekat,” ujarnya.
Saham-saham berkapitalisasi kecil juga menunjukkan kebangkitan. Indeks Russell 2000 naik 1,1% dan mengakhiri tren penurunan empat hari beruntun.
Harapan terjadinya *Santa Claus rally*, yaitu kecenderungan pasar menguat pada lima hari perdagangan terakhir Desember dan dua hari pertama Januari, pupus akibat tekanan jual di akhir Desember dan awal Januari.
Arah kebijakan moneter Federal Reserve diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan pasar global sepanjang 2026.
Data ekonomi terbaru dan ekspektasi akan ketua The Fed yang lebih dovish membuat investor memperhitungkan peluang penurunan suku bunga lanjutan.
Dennis Dick dari Stock Trader Network memperkirakan suku bunga bisa turun signifikan pada paruh kedua tahun ini. “Itu akan berdampak positif bagi seluruh saham, bukan hanya saham teknologi,” ujarnya.
Fokus pasar dalam waktu dekat tertuju pada rilis data pasar tenaga kerja pekan depan. Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya menegaskan perlunya kejelasan kondisi ketenagakerjaan sebelum melanjutkan pemangkasan suku bunga.
Wall Street mencatat kinerja kuat sepanjang 2025, dengan Dow, S&P 500, dan Nasdaq membukukan kenaikan dua digit untuk tahun ketiga berturut-turut.
Pemulihan ini terjadi setelah pasar sempat anjlok pada April akibat kebijakan tarif *Liberation Day* dari Presiden Donald Trump yang memicu gejolak pasar global.
Isu tarif kembali menjadi perhatian pelaku pasar, meskipun Gedung Putih mengumumkan penundaan kenaikan tarif furnitur berlapis kain, kabinet dapur, dan vanity kamar mandi selama satu tahun.
Saham peritel furnitur seperti Wayfair, Williams-Sonoma, dan RH masing-masing melonjak 6%, 5%, dan hampir 8%.
Jumlah saham yang menguat mengungguli yang melemah dengan rasio 2,01 banding 1 di Bursa Efek New York (NYSE). Tercatat 236 saham mencetak level tertinggi baru dan 95 saham mencatatkan level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.978 saham menguat dan 1.818 saham melemah. Volume transaksi di seluruh bursa AS mencapai 15,92 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 15,87 miliar saham.