IHSG Diproyeksi Sentuh 9.000 Tahun 2026, Sentimen Positif Mendorong

JAKARTA. Pasar saham Indonesia diprediksi akan menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2026. Sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, menjadi pendorong utama optimisme ini.

Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa pasar modal Indonesia masih sangat prospektif. Pertumbuhan jumlah investor, yang kini mencapai 19,19 juta Single Investor Identification (SID), menjadi salah satu faktor pendorong.

Program literasi dan inklusi pasar modal berperan penting dalam meningkatkan partisipasi investor. Selain itu, peningkatan jumlah Initial Public Offering (IPO) juga memberikan modal berharga bagi pertumbuhan pasar saham domestik.

“Kami melihat kondisi makro ekonomi, tensi global, hingga suku bunga bank sentral akan mendorong optimisme untuk penyerapan dana melalui publik,” ujarnya, Jumat (2/1/2026).

Kuatnya permintaan domestik juga menjadi katalis positif. Pergeseran kepemilikan aset oleh investor lokal menjadi 60,9% per Oktober 2025 menunjukkan peningkatan kepercayaan domestik, meskipun investor asing cenderung mengurangi kepemilikan.

Audi menjelaskan beberapa faktor utama yang akan menggerakkan IHSG sepanjang 2026. Pertama, pelonggaran suku bunga acuan, termasuk oleh Bank Indonesia (BI), akan menurunkan cost of fund sehingga permintaan kredit dan ekspansi kembali bergairah.

Wacana penggantian ketua The Fed oleh Donald Trump, yang lebih pro-pasar, juga menjadi sentimen positif. Berdasarkan Economic Projection, diperkirakan hanya akan terjadi satu kali pemangkasan Fed Fund Rate (FFR) pada tahun 2026.

Stabilitas ekonomi makro dalam negeri dan nilai rupiah juga menjadi penopang penguatan IHSG.

Kebijakan pengurangan defisit AS oleh Trump masih akan mempengaruhi pasar global, terutama jika kebijakan tarif tetap menjadi andalan.

“Secara umum, kami berpandangan penguatan IHSG akan ditopang oleh sustainability earnings dan konsistensi likuiditas global,” kata Audi.

Dia juga memprediksi inflow dana asing akan bergerak positif pada 2026, sejalan dengan kebijakan pelonggaran suku bunga acuan yang mendorong pelemahan yield obligasi.

Dalam enam bulan terakhir, tercatat inflow dari investor asing sebanyak Rp 35 triliun, diikuti oleh tren shifting ke saham-saham blue chip.

Tren ini diperkirakan akan berlanjut pada 2026, asalkan stabilitas ekonomi dalam negeri tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi nasional harus di atas 5%, inflasi terkendali, dan neraca tetap solid.

Emiten yang sensitif terhadap suku bunga acuan seperti sektor keuangan, properti, dan teknologi dinilai layak dipertimbangkan oleh investor. Sektor energi terbarukan juga menjadi pilihan menarik.

Audi memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 9.300-9.700 sebagai target optimistis tahun 2026. Asumsi yang mendasari proyeksi ini adalah pertumbuhan Earning per Share (EPS) sebesar 13%-15%, tidak ada kejutan global, kurs rupiah stabil, dan dukungan likuiditas global.

Untuk target moderat, IHSG diproyeksikan bergerak di kisaran 8.400-8.800 pada 2026 dengan asumsi EPS tumbuh 9%-11%, likuiditas global netral, dan investor asing bersikap selektif.

Sementara itu, untuk target pesimistis, IHSG bisa saja bergerak di level 7.300-7.900 pada tahun ini dengan asumsi EPS hanya tumbuh 7%-9%, terjadi outflow asing secara berkala, dan risk premium ikut naik.

Rekomendasi