

Jakarta – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bergerak di sektor batubara, minyak sawit mentah (CPO), serta logam dan mineral menghadapi potensi sentimen negatif menyusul pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Pemerintah menetapkan DSI sebagai pintu tunggal untuk ekspor komoditas tersebut, yang kini memicu ketidakpastian baru di pasar modal.
Retail Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Muhammad Fatah Al Falah, menyatakan bahwa pelaku pasar saat ini masih cenderung bersikap wait and see. Pasar memberikan respons negatif karena mengkhawatirkan adanya ketidakpastian kebijakan, terutama terkait teknis implementasi dan pengaruhnya terhadap arus kas para eksportir.
Pasar khawatir fungsi DSI yang seharusnya menjadi verifikator berisiko berubah menjadi trader atau pelaku pasar. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai potensi perluasan skema ekspor satu pintu ke komoditas strategis lainnya, seperti nikel, tembaga, bauksit, timah, hingga liquefied natural gas (LNG).
Lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings dan Moody’s juga turut menyoroti kebijakan ini. Investor asing dinilai semakin berhati-hati karena kebijakan tersebut berpotensi mengurangi fleksibilitas eksportir dan meningkatkan intervensi pemerintah dalam mekanisme perdagangan komoditas nasional.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina, menjelaskan bahwa meski praktik pengelolaan ekspor satu pintu lazim dilakukan negara lain, tantangan di Indonesia berbeda. Ia mencontohkan China dengan China Rare Earth Group, Arab Saudi dengan Saudi Aramco, serta Malaysia dengan Petronas yang didominasi oleh perusahaan milik negara (BUMN).
Sebaliknya, mayoritas pemain besar di sektor komoditas Indonesia merupakan pihak swasta. Martha menilai dampak kebijakan ini tidak akan terlalu signifikan bagi emiten yang berfokus pada pasar domestik. Namun, emiten dengan porsi ekspor tinggi diperkirakan paling rentan terdampak.
Data Mirae Asset Sekuritas menunjukkan beberapa emiten batubara dengan porsi ekspor besar, di antaranya PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar 77 persen, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar 85 persen, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 63 persen.
Di sektor CPO, emiten dengan eksposur ekspor besar meliputi PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Sementara di sektor nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dinilai paling terdampak karena hubungan penjualannya dengan Glencore.
Pelaku pasar kini menanti kejelasan lebih lanjut mengenai peran DSI dalam rantai perdagangan komoditas. Ketidakpastian mengenai mekanisme bisnis dan cakupan komoditas ini diperkirakan masih akan membayangi pergerakan saham emiten berbasis ekspor dalam jangka pendek.