

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa (6/1/2026) waktu setempat. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan saham-saham semikonduktor di tengah optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 naik 0,62% ke level 6.944,55. Nasdaq Composite menguat 0,61% ke posisi 23.537,96. Dow Jones melonjak 1,02% ke 49.476,54, mendekati level psikologis 50.000.
Saham teknologi memori dan penyimpanan mengalami penguatan setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, memaparkan pengembangan teknologi lapisan baru untuk sistem penyimpanan data di ajang Consumer Electronics Show (CES) Las Vegas.
Saham SanDisk melonjak 23%, Western Digital melesat 16%, Seagate Technology naik 13%, dan Micron Technology menguat hampir 8%. Keempat saham ini mencatatkan rekor tertinggi baru.
Indeks semikonduktor PHLX naik 2,7%, sehingga sepanjang tiga sesi perdagangan pertama 2026 telah menguat 7,9%.
Manajer portofolio Argent Capital, Jed Ellerbroek, memperkirakan musim laporan keuangan Big Tech akan sangat kuat. Proyeksi belanja modal yang beredar kemungkinan akan kembali direvisi naik.
Pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi setelah dampak penutupan pemerintah federal AS mereda. Agenda data pekan ini mencakup laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) dan laporan ketenagakerjaan Desember pada Jumat.
Data tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi memperkuat peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral.
Saham Moderna melonjak 10% setelah BofA Global Research menaikkan target harga emiten farmasi tersebut. Indeks kesehatan S&P 500 naik 1,9%.
Data pada Selasa menunjukkan PMI komposit final S&P Global turun ke 52,7 pada Desember dari 53,0 pada bulan sebelumnya. PMI sektor jasa melemah ke 52,5 dari 52,9.
Pasar juga mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, yang menegaskan sikap hati-hati bank sentral AS terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan.
Pernyataan Barkin kontras dengan pandangan Gubernur The Fed Stephen Miran yang mendorong pemangkasan agresif.
Investor cenderung mengabaikan kekhawatiran akan dampak geopolitik setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Langkah tersebut berpotensi membuka jalan bagi perusahaan AS untuk mengakses cadangan minyak Venezuela.