

New York – Bursa saham Wall Street dibuka cenderung stagnan pada perdagangan Rabu (7/1/2026), setelah investor melakukan konsolidasi menyusul reli saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) pada sesi sebelumnya.
Saat ini, pasar menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis hari ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 50,6 poin atau 0,10% ke level 49.512,72 saat pembukaan. S&P 500 turun tipis 0,3 poin ke posisi 6.945,07, dan Nasdaq Composite melemah 2,3 poin atau 0,01% ke level 23.544,89.
Sebelumnya, Wall Street ditutup menguat pada Selasa (6/1) didorong sentimen positif terhadap saham-saham terkait AI dan lonjakan saham sektor kesehatan. S&P 500 bahkan mencetak rekor penutupan tertinggi.
Fokus investor kini tertuju pada data pasar tenaga kerja. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk November akan dirilis setelah pasar dibuka.
Data ADP yang dirilis Rabu menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta AS sebesar 41.000 orang pada Desember, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 47.000 orang.
“Data ADP sangat condong pada perusahaan besar, sementara sebagian besar lapangan kerja di AS justru berasal dari perusahaan kecil. Jadi, data ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja secara menyeluruh,” kata Kim Forrest, Chief Investment Officer Bokeh Capital Partners.
Forrest menambahkan, investor cenderung berhati-hati dan menghindari posisi besar hingga laporan nonfarm payrolls dirilis pada Jumat.
Pelaku pasar juga berharap memperoleh data ekonomi yang lebih andal setelah penutupan sebagian pemerintahan AS terpanjang dalam sejarah pada akhir 2025.
Saham-saham chip, yang menjadi pendorong reli pada Selasa, bergerak relatif stabil pada perdagangan pra-pasar. Saham Nvidia naik 0,6%.
Saham produsen memori yang sebelumnya melonjak karena prospek kekurangan pasokan dan kenaikan harga mulai terkoreksi. Saham SanDisk dan Micron Technology masing-masing turun 1,4% dan 0,9%.
Saat ini, indeks S&P 500 hanya berjarak sekitar 0,8% dari level psikologis 7.000, sementara Dow Jones tinggal sekitar 1% menuju level historis 50.000.
Ketiga indeks utama Wall Street mengawali tahun 2026 dengan kinerja positif, setelah mencatatkan tiga tahun berturut-turut kenaikan dua digit sepanjang 2025.
Pasar juga mencermati perkembangan geopolitik global, termasuk situasi di Venezuela dan pemanfaatan sumber daya minyak negara tersebut, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memurnikan dan menjual hingga 50 juta barel minyak mentah yang selama ini tertahan di negara Amerika Latin tersebut.
Gedung Putih juga mengungkapkan bahwa Trump tengah membahas berbagai opsi untuk mengakuisisi Greenland, termasuk potensi penggunaan kekuatan militer AS.
Saham Strategy naik 4% pada perdagangan pra-pasar setelah MSCI membatalkan rencana untuk mengeluarkan perusahaan penyimpan bitcoin dan sejumlah perusahaan treasury kripto lainnya dari indeksnya.