

Jakarta – Pemerintah menegaskan siap menyalurkan subsidi untuk menjaga stabilitas harga bahan pangan jika terjadi lonjakan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Menteri Koordinator Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk penanggulangan kondisi tak terduga. Menurutnya, intervensi tersebut dapat dilakukan dalam bentuk subsidi ongkos kirim bahan pangan yang akan disalurkan oleh pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.
“Ada anggaran untuk bencana tidak terduga. Jadi disubsidi,” ujar Zulkifli di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai harga bahan pangan saat ini masih dalam kondisi normal dan belum terdampak pelemahan rupiah. Namun, data Kementerian Perdagangan per 12 Mei 2026 mencatat adanya fluktuasi pada beberapa komoditas. Harga minyak goreng curah naik 0,17 persen menjadi Rp 19.560 per liter, sementara harga kedelai impor melonjak hingga Rp 13.607 per kilogram, melampaui harga acuan pembelian yang ditetapkan sebesar Rp 11.400–12.000 per kilogram.
Pelemahan rupiah sendiri telah menembus level psikologis di atas Rp 17.500 per dolar AS. Hingga perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, mata uang Garuda ditutup melemah 115 poin di level 17.529 per dolar AS.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Secara global, tingginya inflasi energi serta ekspektasi suku bunga global memicu perpindahan modal investor asing dari negara berkembang ke aset yang lebih aman.
Selain itu, tekanan juga datang dari penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti MSCI, Moody’s, dan Fitch Ratings yang menyoroti kredibilitas kebijakan pemerintah. Hal ini berdampak pada aliran modal keluar (capital outflow) yang tercatat mencapai US$ 2,2 miliar di pasar saham dan sekitar US$ 0,7 miliar di pasar obligasi sejak awal tahun hingga Mei 2026.
Kondisi tersebut menyebabkan nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 3,9 persen secara year to date. Meski demikian, pasar saat ini masih ditopang oleh aliran masuk modal pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) jangka pendek.