

Jakarta – Pelaku pasar kini tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 19–20 Mei 2026. Fokus utama tertuju pada keputusan suku bunga acuan atau BI rate yang diproyeksikan akan naik 25 basis poin ke level 5,00% dari sebelumnya 4,75%.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai jika skenario kenaikan suku bunga terjadi, pasar kemungkinan akan merespons negatif dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh biaya dana yang menjadi lebih mahal dan likuiditas yang cenderung mengetat.
Selain itu, kenaikan suku bunga di tengah tekanan rupiah biasanya diartikan bahwa otoritas moneter lebih memprioritaskan stabilitas nilai tukar dibandingkan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam kondisi saat ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami tekanan lanjutan. Indeks memiliki peluang untuk kembali menguji area support psikologis di kisaran 6.300–6.500 jika disertai dengan arus keluar modal asing atau outflow yang agresif.
Elandry menjelaskan bahwa emiten yang paling terdampak adalah sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan pembiayaan, seperti properti, teknologi, consumer discretionary, serta emiten dengan leverage tinggi.
“Kenaikan bunga akan meningkatkan biaya pinjaman, menekan daya beli masyarakat, dan menurunkan valuasi saham berbasis pertumbuhan,” ujar Elandry, Selasa (19/5/2026).
Berikut adalah sektor-sektor yang diperkirakan rentan terdampak:
1. Properti
Saham seperti BSDE, PWON, CTRA, dan SMRA berpotensi tertekan karena kenaikan bunga membuat cicilan kredit semakin mahal. Kondisi ini dapat memperlambat permintaan properti dan menekan marketing sales.
2. Teknologi
Emiten seperti GOTO, BELI, dan BUKA dinilai rentan karena profitabilitasnya masih tipis atau belum stabil. Di tengah suku bunga tinggi, valuasi saham growth biasanya mengalami kompresi.
3. Consumer Discretionary
ACES, MAPA, dan MAPI berpotensi terkena dampak seiring kecenderungan masyarakat menahan belanja konsumtif dan gaya hidup, yang dapat menurunkan traffic ritel dan penjualan.
4. Konstruksi
Saham seperti WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP berisiko menghadapi kenaikan biaya bunga dan beban refinancing yang lebih berat, sehingga margin laba tertekan.
5. Bank Digital dan Bank Kecil
ARTO dan BBHI diperkirakan tertekan karena kenaikan biaya dana dapat memperlambat pertumbuhan kredit digital.
Sebaliknya, saham bank berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI dinilai relatif lebih defensif. Hal ini ditopang oleh dana murah (CASA) yang kuat, profitabilitas stabil, kualitas aset yang terjaga, serta dominasi pangsa pasar.
Elandry menyarankan investor untuk bersikap selektif dan defensif. Investor sebaiknya fokus pada saham dengan fundamental kuat, arus kas stabil, serta yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah atau tingginya harga komoditas.
Bagi trader jangka pendek, posisi kas bisa diperbesar sambil menunggu kepastian arah kebijakan BI dan stabilisasi pasar. Manajemen risiko menjadi kunci utama dengan mengurangi eksposur pada saham yang memiliki volatilitas tinggi.
Di sisi lain, jika BI memutuskan untuk menahan suku bunga di level saat ini, pasar mungkin merespons lebih positif karena beban ekonomi tidak bertambah berat. Jika BI dinilai kredibel menjaga rupiah, maka ada peluang IHSG mengalami technical rebound.
Sejumlah saham yang menarik untuk dicermati dalam kondisi volatilitas saat ini antara lain BBCA, BBRI, ADRO, PTBA, ANTM, ICBP, MYOR, dan TLKM.