IHSG Berpotensi Bergerak Fluktuatif, Simak Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak fluktuaktif dan cenderung volatil pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Pergerakan pasar diperkirakan masih akan dibayangi oleh tekanan nilai tukar rupiah, arus keluar dana asing, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta sentimen kebijakan ekonomi domestik.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyatakan bahwa jika rupiah terus melemah dan tekanan jual asing berlanjut, IHSG berpotensi menguji kembali level support di 6.000 dengan resistance di 6.215.

Kendati demikian, peluang rebound teknikal jangka pendek tetap terbuka bagi IHSG setelah mengalami koreksi dalam beberapa hari terakhir. Hal ini dapat terjadi apabila muncul aksi beli atau bargain hunting pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang sudah masuk dalam kondisi jenuh jual atau oversold.

Menurut Hendra, investor juga perlu memantau stabilitas harga minyak dunia serta arah imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kedua faktor tersebut menjadi indikator krusial bagi aliran dana global ke pasar negara berkembang atau emerging market.

Dalam jangka pendek, investor disarankan untuk fokus pada saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang memiliki ketahanan terhadap tekanan eksternal.

Beberapa saham yang menarik untuk dicermati meliputi TLKM dengan strategi buy on weakness di area Rp 2.860 dan target jangka pendek di Rp 3.200 per saham. Selain itu, saham CPIN dinilai layak untuk trading buy dengan target Rp 4.500 per saham, didorong oleh sentimen pembagian dividen dan solidnya prospek konsumsi domestik.

Saham INDF juga direkomendasikan untuk speculative buy dengan target penguatan ke area Rp 7.000 per saham. Dari sektor komoditas, saham TINS dinilai menarik untuk speculative buy dengan target Rp 3.700 per saham, seiring potensi pemulihan harga timah global. Meski demikian, investor diminta tetap menerapkan manajemen risiko ketat karena volatilitas sektor komoditas masih tinggi.

Sebelumnya, IHSG ditutup anjlok 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5), menembus area psikologis 6.100. Pelemahan ini mencerminkan tekanan pasar yang besar di tengah respons negatif pelaku pasar terhadap rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam.

Sentimen negatif domestik diperberat oleh pelemahan rupiah di kisaran Rp 17.600 per dolar AS serta arus keluar dana asing yang telah menembus angka Rp 51 triliun sejak awal tahun. Dari sisi eksternal, sikap hawkish bank sentral AS, The Fed, yang berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama, turut memicu aksi penghindaran risiko investor dari aset-aset di emerging market.

Rekomendasi