Emiten Peroleh Kredit Perbankan, Simak Dampaknya Terhadap Kinerja Keuangan

Jakarta – Sejumlah emiten dari berbagai sektor tercatat mendapatkan fasilitas kredit dari perbankan sepanjang Mei 2026. Penambahan modal tersebut ditujukan untuk mendukung operasional serta memperkuat kinerja keuangan perusahaan ke depan.

Beberapa emiten yang menerima fasilitas kredit tersebut di antaranya PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS), dan PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE).

Secara rinci, ERAL memperoleh kredit dari Bank BCA sebesar Rp 245 miliar dengan bunga 6,75% dan tenor hingga Mei 2027. Selain itu, emiten ritel ini juga mendapatkan tambahan fasilitas time loan sebesar Rp 450 miliar serta kredit investasi senilai Rp 148 miliar. ERAL juga meraih multi credit facility dalam berbagai mata uang serta fasilitas forex forward line.

Di sisi lain, DCII menerima fasilitas kredit investasi dari BCA dengan limit mencapai Rp 17 triliun untuk pengembangan data center. Agunan yang diberikan mencakup aset tanah, bangunan, hingga mesin data center. Sementara itu, CBRE memperoleh pinjaman berjangka dari Bank Maybank Indonesia senilai US$ 45 juta untuk pelunasan armada guna mendukung operasional.

IFSH mendapatkan fasilitas kredit lokal dan time loan revolving dari BCA masing-masing senilai Rp 100 miliar dan Rp 300 miliar. Adapun CGAS menerima tambahan pembiayaan dari Bank Mandiri berupa standby letter of credit (SBLC) sebesar US$ 3,16 juta serta kredit investasi dengan total Rp 27,5 miliar. Terakhir, BOAT menandatangani perjanjian kredit modal kerja dengan Bank BNI sebesar Rp 9 miliar.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menyatakan bahwa penggunaan utang produktif ini akan berdampak langsung pada operasional perusahaan. Ia mengingatkan investor untuk mencermati skema bunga yang digunakan oleh para emiten.

Jika perusahaan menggunakan suku bunga tetap, beban bunga akan lebih terukur di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, jika menggunakan bunga mengambang, kenaikan suku bunga acuan berpotensi meningkatkan beban keuangan perseroan.

Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menambahkan bahwa lingkungan suku bunga yang masih relatif tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan. Menurut Adrian, fasilitas kredit yang diterima DCII dan CBRE berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap fundamental perusahaan dalam jangka panjang.

Bagi DCII, pendanaan besar tersebut akan dialokasikan untuk belanja modal pembangunan data center yang sejalan dengan tingginya permintaan infrastruktur digital serta layanan cloud dan artificial intelligence. Sementara itu, investor tetap diimbau untuk memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menjaga profitabilitas di tengah potensi peningkatan beban bunga.

Rekomendasi