Penerbitan Obligasi Tetap Terbuka Meski Suku Bunga Tinggi

Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi akan berlangsung lebih selektif menyusul kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) menjadi 5,25 persen. Kenaikan tersebut meningkatkan biaya dana di pasar dan mendorong investor untuk meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi.

Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga menekan harga obligasi lama dan membuat biaya penerbitan baru menjadi lebih mahal. Emiten dengan kebutuhan pendanaan yang tidak mendesak kini cenderung menunda penerbitan, memperpendek tenor, atau beralih ke sumber pendanaan alternatif.

Namun, emiten dengan beban jatuh tempo yang besar tetap harus masuk ke pasar untuk menjaga likuiditas. Ahmad mencatat kebutuhan refinancing pada semester II 2026 cukup signifikan, dengan total jatuh tempo surat utang korporasi mencapai Rp 107,51 triliun. Rinciannya, sebesar Rp 63,95 triliun jatuh tempo pada kuartal III dan Rp 43,56 triliun pada kuartal IV.

Sektor industri multifinance tercatat memiliki kebutuhan jatuh tempo terbesar pada tahun 2026, yakni mencapai Rp 33,93 triliun. Disusul oleh sektor pulp dan kertas sebesar Rp 23,18 triliun serta sektor perbankan dengan nilai Rp 19,08 triliun.

Menurut Ahmad, terdapat empat sentimen utama yang akan mempengaruhi pasar obligasi korporasi ke depan. Pertama, penyesuaian yield (repricing) akibat kenaikan suku bunga acuan yang memicu sikap kehati-hatian investor. Kedua, besarnya kebutuhan refinancing yang memaksa emiten mencermati momentum penerbitan agar tidak terjebak kupon tinggi saat pasokan pasar meningkat.

Ketiga, kondisi likuiditas dan preferensi investor terhadap kualitas kredit. Investor diprediksi akan lebih meminati obligasi dari emiten berperingkat tinggi dengan risiko kredit rendah, sementara emiten berperingkat lebih rendah akan menghadapi premi risiko yang lebih tinggi. Keempat, faktor eksternal seperti volatilitas pasar keuangan global dan nilai tukar rupiah yang membuat obligasi korporasi tetap sensitif terhadap dinamika makro.

Senada dengan hal tersebut, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menyarankan investor untuk lebih melirik instrumen pasar uang atau obligasi pemerintah guna menjaga likuiditas dan imbal hasil. Jika tetap memilih obligasi korporasi, investor disarankan fokus pada tenor pendek antara satu hingga tiga tahun dengan mempertimbangkan fundamental penerbit yang kuat.

Fikri memproyeksikan spread antara Surat Berharga Negara (SBN) dengan obligasi korporasi peringkat AAA akan berkisar di angka 40 hingga 80 basis poin. Kondisi ekonomi global yang volatil serta risiko defisit fiskal domestik menjadi pemicu kecenderungan peningkatan yield spread antar tenor maupun peringkat di masa depan.

Rekomendasi