Layanan Kompos Keliling: Solusi Inovatif Mengurangi Sampah dari Rumah

e62af61b01cf6bdc1f3167f77578246c.jpg

Jakarta Selatan – Inovasi pengolahan sampah berbasis komunitas kini tengah digalakkan oleh warga di wilayah RT 11/RW 07, Gandaria Utara, Jakarta Selatan.

Ketua RT setempat, Imam Basori, menginisiasi program unik yang diberi nama Komling atau Kompos Keliling untuk menangani limbah organik rumah tangga.

Setiap hari, petugas akan berkeliling menggunakan gerobak sampah listrik sambil meneriakkan kata “Komling” sebagai tanda bagi warga untuk menyerahkan sampah organik mereka.

Sistem jemput bola ini dilakukan secara rutin dengan mendatangi setiap rumah warga untuk mengambil sisa makanan, sayuran, hingga kulit buah.

Dalam sehari, program Komling mampu mengumpulkan sampah organik dengan volume berkisar antara lima hingga 10 kilogram.

Sampah-sampah yang terkumpul tersebut kemudian diproses menggunakan mesin pencacah berkapasitas 2,5 liter untuk diubah menjadi pupuk kompos.

Pupuk yang dihasilkan dari proses daur ulang ini nantinya dimanfaatkan untuk menyuburkan berbagai tanaman yang ada di lingkungan sekitar.

Imam Basori mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyediakan tanaman sayuran bagi warga sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar masyarakat lebih konsisten dalam memilah sampah.

“Saya juga sudah siapkan tanaman sayur untuk warga sehingga mereka termotivasi untuk memilah sampah,” ujar Imam pada Rabu (8/7).

Tujuan utama dari gerakan ini adalah mengurangi beban kiriman sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Menurut Imam, langkah ini merupakan upaya krusial untuk memutus mata rantai penumpukan sampah mulai dari level terbawah, yakni tingkat RT dan RW.

Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup yang menetapkan bahwa mulai Agustus 2026, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantargebang hanya akan menerima sampah residu saja.

Selain sebagai sarana pengolahan limbah, program Komling juga berfungsi sebagai media edukasi bagi warga mengenai pentingnya klasifikasi jenis sampah.

Imam menyadari bahwa kesadaran masyarakat mengenai pemilahan sampah masih perlu ditingkatkan karena banyak warga yang mencampur berbagai jenis limbah dalam satu wadah.

“Masyarakat hanya tahu kalau sampah itu sama semua dan saat kami berkunjung ternyata mereka mencampur sampah plastik, logam dan kertas,” jelasnya.

Sebagai informasi, sampah secara umum dikategorikan menjadi empat jenis utama.

Pertama adalah sampah organik yang berasal dari limbah sisa makhluk hidup, baik hewan, manusia, maupun tumbuhan.

Kedua adalah sampah anorganik yang meliputi material berbahan logam, plastik, dan kaca.

Ketiga adalah sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), seperti baterai bekas, lampu neon, cat, hingga limbah peralatan medis.

Keempat adalah sampah residu, yaitu jenis sampah yang tidak dapat didaur ulang maupun terurai secara alami, seperti popok bekas, kemasan plastik, dan bahan kimia tertentu.

Selain program Komling, lingkungan ini juga dilengkapi dengan mesin Smart Geprek untuk memadatkan sampah botol plastik dan kaleng minuman bekas.

Limbah yang telah dipadatkan tersebut kemudian disetorkan ke bank sampah untuk dikelola lebih lanjut.

Keuntungan yang diperoleh dari penjualan sampah anorganik tersebut dikumpulkan sebagai dana operasional bersama untuk kepentingan lingkungan.

“Bagi saya selaku Ketua RT, dana ini dari warga, oleh warga dan untuk warga,” tegas Imam.

Rekomendasi