Amran Pacu Produksi 11 Komoditas Pangan Tahun Depan

Jakarta – Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan peningkatan produksi pada sebelas komoditas utama atau strategis pada 2026. Program ini bertujuan untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan dan hilirisasi komoditas pertanian nasional. Amran menyampaikan hal ini saat rapat kerja dengan Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 24 November 2025.

Peningkatan produksi mencakup padi, jagung, dan komoditas lainnya. Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi mencapai 60,34 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 34,7 juta ton beras pada 2026. Sementara itu, target produksi jagung sebesar 18 juta ton, aneka cabai 3,08 juta ton, dan bawang merah 2 juta ton.

Selain itu, Amran juga menetapkan target produksi tebu sebesar 39,5 juta ton, kopi 786 ribu ton, kakao 633 ribu ton, dan kelapa 2,89 juta ton. Untuk komoditas hewani, target produksi daging sapi/kerbau ditetapkan sebesar 514 ribu ton, daging ayam 4,3 juta ton, dan telur 7,7 juta ton.

Amran menjelaskan, pada tahun ini (2025), produksi beras telah mencapai 34,7 juta ton. Sedangkan produksi jagung tahun ini mencapai 16,5 juta ton, meningkat 9,34 persen dari 2024. “Tidak ada impor jagung tahun 2025,” tegasnya.

Kementerian Pertanian juga memiliki berbagai program pendukung, meliputi pengelolaan air dan irigasi, konservasi dan rehabilitasi lahan, serta pembangunan jalan usaha tani. Selain itu, Amran mengatakan pihaknya berupaya menyediakan benih unggul, alat mesin pertanian untuk pra dan pasca panen, serta pupuk subsidi.

Program lain yang dicanangkan adalah pengembangan penyuluhan dan regenerasi petani, pencetakan sawah baru, serta optimasi lahan.

Untuk merealisasikan target tersebut, Kementerian Pertanian telah menerima alokasi anggaran sebesar Rp 40,1 triliun untuk tahun depan. Anggaran itu dialokasikan untuk ketersediaan akses konsumsi pangan berkualitas sebesar Rp 23,8 triliun, peningkatan nilai tambah dan daya saing industri Rp 6,6 triliun, pendidikan dan pelatihan vokasi Rp 747 miliar, serta dukungan manajemen Rp 8,9 triliun.

Rekomendasi