BI Rate Naik, Investor Obl

Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dinilai telah mengubah arah pasar obligasi domestik. Langkah ini menggeser fokus investor dari mengejar keuntungan modal (capital gain) menjadi upaya menjaga stabilitas serta mempertahankan imbal hasil riil.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kebijakan BI tersebut bertujuan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini diambil di tengah tekanan global, kenaikan harga energi, serta meningkatnya risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

“Sekarang fokus pasar berubah dari mencari capital gain menuju menjaga stabilitas dan mempertahankan imbal hasil riil,” ujar Josua, Senin (25/5/2026).

Menurut Josua, tekanan eksternal masih cukup tinggi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS. Kondisi ini membuat tren kupon obligasi baru diperkirakan akan terus meningkat atau setidaknya bertahan tinggi hingga akhir tahun.

Pemerintah maupun korporasi dinilai perlu menawarkan imbal hasil yang lebih menarik agar investor tetap berminat membeli obligasi di tengah tingginya suku bunga dan volatilitas global. Saat ini, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun berada di level 92,11.

Data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) mencatat yield Surat Utang Negara (SUN) tenor lima tahun berada di posisi 6,73 persen, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 6,85 persen. Untuk obligasi korporasi rating AAA, yield tenor lima tahun mencapai 7,13 persen dan tenor 10 tahun menyentuh 7,40 persen.

Josua menyebut, bahkan sebelum BI menaikkan suku bunga, permintaan dalam lelang SUN sudah mulai melemah karena investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi. Setelah kenaikan BI Rate, pasar dipastikan akan meminta kompensasi imbal hasil yang lebih besar, terutama untuk tenor menengah dan panjang.

Kondisi ini membuat kupon SBN ritel baru berpotensi lebih menarik dibandingkan seri-seri yang diterbitkan pada awal tahun. Hal serupa berlaku untuk obligasi korporasi, terutama perusahaan dengan kualitas kredit menengah yang perlu menawarkan premi tambahan di atas yield SUN.

Bagi investor ritel konservatif, Josua menyarankan untuk memperbesar porsi obligasi pemerintah dibandingkan obligasi korporasi. Alasannya, volatilitas global masih tinggi dan risiko pasar belum sepenuhnya mereda meskipun peringkat kredit Indonesia masih berada di level investment grade.

Di sisi lain, obligasi Fixed Rate (FR) di pasar sekunder mulai menarik bagi investor yang memahami risiko harga. Kenaikan yield yang cukup besar telah membuat harga sejumlah seri FR terkoreksi, sehingga memberikan peluang kupon lebih tinggi dan potensi keuntungan modal di masa depan.

Namun, instrumen FR lebih cocok untuk investor yang siap menghadapi fluktuasi harga harian. Sementara itu, SBN ritel lebih sesuai bagi investor yang menginginkan pendapatan stabil tanpa harus aktif memantau pasar.

Dalam kondisi saat ini, investor ritel sebaiknya lebih fokus pada obligasi tenor pendek hingga menengah. Tenor pendek dinilai relatif lebih aman karena memiliki sensitivitas yang lebih rendah terhadap kenaikan suku bunga dibandingkan tenor panjang.

Josua menambahkan, risiko suku bunga tinggi bertahan lebih lama atau higher for longer masih cukup besar apabila harga minyak tetap tinggi dan rupiah terus tertekan. Oleh karena itu, strategi investasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan fokus pada pendapatan kupon rutin.

Ke depan, yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan masih bertahan tinggi dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Namun, dalam jangka menengah 6 hingga 12 bulan, yield berpotensi stabil dan turun secara bertahap apabila situasi geopolitik mereda dan nilai tukar rupiah kembali stabil.

Rekomendasi