BMKG Prediksi Puncak Kemarau Melanda 80 Persen Wilayah Indonesia

3955a6594c9f73e661bc5a7979241490.jpg

Jakarta – Ancaman kekeringan ekstrem kini membayangi berbagai wilayah di Indonesia seiring dengan masuknya puncak musim kemarau yang diperparah oleh fenomena iklim El Nino.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena El Nino diprediksi akan terus menguat hingga mencapai kategori kuat.

Kondisi ini secara langsung berdampak pada penurunan drastis curah hujan di sebagian besar wilayah Nusantara.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa penguatan El Nino akan menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan jauh lebih lama dari kondisi normal.

Dampak iklim ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ketahanan pangan nasional di masa mendatang.

Sektor pertanian menjadi pihak yang paling terdampak oleh berkurangnya ketersediaan air akibat fenomena tersebut.

Ardhasena mengimbau para pelaku sektor pertanian untuk segera menjalankan langkah-langkah mitigasi guna menekan potensi gagal panen.

Beberapa langkah krusial yang disarankan meliputi penyesuaian jadwal tanam agar selaras dengan ketersediaan air yang ada.

Selain itu, petani diimbau untuk mengoptimalkan penggunaan varietas tanaman yang memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi kering.

Pemilihan varietas tanaman berumur genjah juga sangat disarankan untuk mempercepat masa panen sebelum cadangan air benar-benar menipis.

Diversifikasi tanaman pangan menjadi alternatif strategis untuk menjaga produktivitas lahan di tengah tantangan iklim yang tidak menentu.

“Beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan, antara lain menyesuaikan jadwal tanam, mengoptimalkan penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering dan berumur genjah, serta melakukan diversifikasi tanaman pangan,” ujar Ardhasena dalam keterangan resminya pada Jumat (3/7).

Masyarakat di berbagai daerah diminta untuk melakukan langkah adaptasi sesuai dengan karakteristik geografis wilayah masing-masing.

Pihak BMKG menegaskan bahwa dampak El Nino tidak akan dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Data pemantauan iklim menunjukkan bahwa hingga pertengahan Juni, sekitar 37,6 persen zona musim di tanah air telah resmi memasuki musim kemarau.

Sebanyak 47,16 persen wilayah Indonesia bahkan telah mencatatkan curah hujan di bawah angka normal.

Situasi ini diperkirakan akan terus meluas ke berbagai daerah lainnya dalam beberapa bulan ke depan.

BMKG memproyeksikan bahwa lebih dari 80 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode Juli hingga Oktober.

Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada rentang waktu Juli hingga September.

Untuk memantau perkembangan situasi, BMKG berkomitmen melakukan pengawasan ketat terhadap dinamika iklim regional maupun global.

Informasi prakiraan cuaca akan diperbarui secara berkala setiap 10 hari sekali demi memberikan acuan bagi pemerintah dan masyarakat dalam mengambil kebijakan antisipatif.