Bos Agrinas Ungkap Strategi Tekan Harga di Koperasi Merah Putih

Jakarta – PT Agrinas Pangan Nusantara menegaskan kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) bertujuan menciptakan harga yang lebih adil atau fair price bagi masyarakat desa, bukan untuk bersaing dengan ritel modern. Program ini dirancang dengan memangkas rantai distribusi untuk menekan biaya. Di sisi lain, pemerintah juga tengah memperkuat peran koperasi di perdesaan dengan membatasi ekspansi ritel modern.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan skema Koperasi Merah Putih memperpendek rantai distribusi, yang secara otomatis menekan biaya dan menghilangkan peran perantara. Model ini juga membuka akses bagi produk desa untuk langsung masuk ke pasar tanpa melalui rantai distribusi panjang, sehingga produsen di desa berpeluang memperoleh harga jual yang lebih baik.

“Dengan kehadiran koperasi akan terjadi fair price. Distribusi itu langsung dari pabrik ke koperasi, tidak lewat middleman,” ujar Joao saat ditemui di kantornya di Jakarta Selatan, Rabu (22/4). Ia menambahkan, keberadaan koperasi justru melengkapi ekosistem perdagangan, bukan menjadi kompetitor langsung bagi ritel modern. Menurutnya, setiap pelaku usaha, termasuk ritel besar, memiliki perhitungan bisnis masing-masing sebelum melakukan ekspansi.

Di sisi lain, pemerintah tengah menyusun ulang peta perdagangan ritel di wilayah perdesaan untuk memperkuat peran koperasi. Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebelumnya meminta jaringan ritel modern seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk untuk tidak menambah gerai baru di desa.

Imbauan tersebut bertujuan memberi ruang bagi koperasi desa agar dapat menjadi pusat distribusi barang kebutuhan pokok di tingkat lokal. Ferry menilai terdapat perbedaan mendasar antara ritel modern dan koperasi, terutama dalam hal distribusi keuntungan. Ritel modern cenderung mengalirkan profit ke pemegang saham, sementara koperasi memungkinkan perputaran ekonomi tetap berada di desa. “Setop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu koperasi desa yang jualan,” kata Ferry, dikutip Rabu (22/4).

Meski demikian, pemerintah tetap membuka ruang kolaborasi, di mana produk yang belum dapat dipenuhi oleh koperasi masih dapat dipasok oleh jaringan ritel modern. Namun, Joao mengakui sejumlah aspek teknis dalam implementasi program Agrinas, termasuk mekanisme penggajian pengelola koperasi, masih belum dibahas secara rinci.

Rekomendasi