

JAKARTA – Harga komoditas energi bergerak bervariasi pada Jumat (21/11/2025) malam, dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik global dan permintaan musiman. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat melemah, sementara harga gas alam justru menguat.
Pada pukul 19.25 WIB, minyak WTI merosot 0,98% menjadi US$ 58,42 per barel. Sebaliknya, harga gas alam melonjak 1,37% ke level US$4,53 per MMBtu.
Pelemahan harga minyak disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi pasokan global menyusul sinyal perundingan damai antara Ukraina dan Rusia. Apabila sanksi terhadap Rusia dicabut, potensi lonjakan pasokan minyak dapat memicu kelebihan pasokan di pasar dunia.
Di sisi lain, kenaikan harga gas alam didorong oleh perkiraan cuaca dingin di Amerika Serikat, yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan pemanas.
Seorang pengamat pasar menilai, pergerakan yang berlawanan ini adalah hal wajar mengingat minyak dan gas alam memiliki sensitivitas terhadap faktor-faktor berbeda. Harga minyak lebih peka terhadap prospek ekonomi global dan kebijakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak Plus (OPEC+), sementara gas alam lebih dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan persediaan domestik menjelang musim dingin.
Menjelang akhir tahun, sentimen pasar energi masih akan dibentuk oleh keputusan produksi OPEC+, arah suku bunga Federal Reserve AS, kondisi cuaca musim dingin, dan perkembangan geopolitik.
Untuk minyak, pasar akan mencermati potensi peningkatan pasokan dari negara-negara non-OPEC serta efektivitas pemangkasan produksi oleh OPEC+. Sementara untuk gas alam, tingkat keparahan musim dingin di AS menjadi variabel terbesar yang menggerakkan harga. Laporan persediaan oleh Badan Informasi Energi AS (EIA) dan tren permintaan musiman tetap menjadi faktor penentu jangka pendek.
Proyeksi harga menunjukkan minyak WTI diperkirakan masih dalam tren bearish, berpotensi menguji area US$53–US$56 per barel. Namun, ada peluang kenaikan ke US$63–US$65 jika terjadi pemotongan produksi tambahan atau jika perundingan damai tidak mengubah pasokan secara signifikan.
Sementara itu, harga gas alam berpeluang menembus US$4,8–US$5,2 per MMBtu jika musim dingin lebih ekstrem. Namun, harga bisa kembali melemah menuju US$4,0–US$4,2 apabila produksi AS tetap tinggi atau cuaca menghangat.
Pengamat lain memproyeksikan harga WTI hingga akhir tahun cenderung bergerak di kisaran US$55–US$65 per barel, terbatas oleh kekhawatiran permintaan yang melemah. Untuk gas alam, potensi mencapai US$5,00 per MMBtu karena penguatan musiman tetap terbuka, meski oversupply struktural membatasi ruang kenaikan signifikan.